Escape To: #3 Papandayan++


Papandayan
Papandayan
17
ki-ka: Laoshi, Om Wer, Nyai, Si Kece :p

27 – 30 Desember 2013. Menjelang pergantian Tahun Masehi! Hiking dan Camping ceria kali ini disponsori oleh Jarank Pulang (JP) karena kami hanya berempat saja (Saya, Werry, Nyai, dan Laoshi) untuk escape kali ini. Keinginan kami yang ingin menaklukkan Papandayan datang dari ‘undangan’ Kemping Ceria bareng Jarank Pulang. Berhubung waktu itu adalah momen hari kejepit (klo gak salah) dan menjelang akhir tahun, jadi kami berempat memutuskan untuk extend sehari berkeliling Garut.

Full team JP
Full team JP

Meeting point pukul 10 malam di luar area terminal Kp. Rambutan. Hiking yang diadakan oleh JP ini diikuti oleh kira-kira sekitar 30an orang kali ya.. (lupa tapi yang pasti rame banget meen!) gak nyangka bakal sebanyak ini. Sekitar pukul 12 malam kami akhirnya berangkat dan siap menikmati perjalanan malam menuju Garut dengan tertidur.. *Zzz*

Sesampainya di daerah Garut (bukan di terminal, tapi di Masjid daerah mana dekat Papandayan), kami pun sebentar bersih-bersih dan beres-beres. Sempat makan indomie rebus dulu sampai akhirnya kami sadari kalau kami ditinggal oleh rombongan. Haha.. Pantesan mendadak sepi men, gak ada pemberitahuan sebelumnya (apa kami gak ngeuh?), padahal yang lain juga sebelum masih di sini dan dekat dengan posisi mobil pickup yang akan mengangkut kami ke Papandayan. Untunglah, setelah panitia dihubungi, kami dijemput dengan mobil yang lain. Heuheuehe.

Tiba di Pasar dekat Papandayan, kami berhenti sejenak untuk membeli bekal makan siang untuk di atas nanti, karena konsumsi kami harus sediakan sendiri sedangkan JP hanya menyediakan tenda yang harus kita bawa masing-masing per grup (4 orang), kaos dan slayer, transport, alat masak, dan api unggun.. Hehe.

Lovely Papandayan
Lovely Papandayan

Tiba di basecamp, kemudian saatnya kami nanjak! Papandayan termasuk gunung yang landai dengan kawah yang masih aktif dan bau belerang yang cukup menyengat. Alangkah baiknya jika mulut dan hidung ditutupi masker atau slayer karena kelamaan menghirup bau belerang juga bisa berbahaya. Selain itu kondisi perjalanan yang melewati kawah belerang tersebut membuat kulit kering dan wajah memerah mengelupas (betul, saya butuh semingguan untuk me-recovery kulit wajah yang merah mengelupas dan pecah-pecah). Tapi sungguh, itu semua terbayar karena Papandayan luar biasa ajib dan banyak bonus track dan spot-spot yang kece bingit untuk berfoto ria. Hohoho..

Setelah area kering kerontang, masuklah ke area hijau menyejukkan
Setelah area kering kerontang, masuklah ke area hijau menyejukkan

Perjalanan kami tempuh dengan lebih lama karena kami berempat tim paling bontot dengan prinsip hiking santai dan kemping ceria. Sering berhenti untuk mengambil foto atau sekadar istirahat sambil difoto juga. Hehehe..

Bakso.. bakso.. :D
Bakso.. bakso..😀

Akhirnya sampai juga di lokasi kemping, Pondok Saladah. Area kemping ini tidak begitu luas namun lumayan untuk menampung banyak tenda. Ditambah aliran sungai yang bisa digunakan untuk memasak, minum, dan bersih-bersih. Oh ya, yang menarik saat mau sampai di Pondok Saladah, ternyata ada abang penjual bakso dengan payungnya yang warni-warni sedang menjajakan dagangannya. Dan konon katanya, Papandayan sekarang sudah banyak warung dan sudah ada wc umum yang dipasang di lokasi kemping.. *entah harus komen apa klo yg begini..*

Jalur esktrem menuju Tegal Alun
Jalur esktrem menuju Tegal Alun

Setelah beristirahat sejenak dan memasang tenda, kami bersiap untuk ke lokasi yang paling ditunggu berikutnya, Tegal Alun, surganya Edelweiss! Track menuju ke sana lebih sadis daripada penanjakan sebelumnya. Sampai ada tanjakan setan yang harus dilalui secara bergiliran dari pendaki yang turun dengan yang naik melalui jalur tersebut. Tapi perjalanan ini lagi-lagi puas terbalas karena pohon-pohon besar Edelweiss-nya keren luar biasa meski dinginnya minta ampun. Setelah puas menikmati udara, bunga, dan suasana Padang Edelweiss ini, kami beranjak turun melalui Hutan Mati. Hari sudah menjelang malam ketika akhirnya kami sampai kembali ke lokasi perkemahan. Dan berhubung kami tak banyak kenal dengan penanjak lainnya di JP, jadi semalaman sebelum tidur kami berempat ketawa-ketiwi di tenda Werry sebelum penghuni tenda yang lain datang.

Edelweiss!
Edelweiss!
Padang Edelweiss!
Padang Edelweiss!
Hutan Mati
Hutan Mati
Hutan Mati again :D
Hutan Mati again😀

Esok pagi-pagi, kami mengejar sunrise di Hutan Mati. Sayangnya di Hutan Mati ini kami hanya bertiga saja karena Nyai terpaksa harus absen. Setelah berpuas-puas berfoto ria, kami bergabung dengan JP yang lain untuk berfoto di area kawah sebelah sana Hutan Mati. Di sini Nyai dan 2 orang teman baru bergabung untuk berfoto-ria.

Menjelang siang, kami kembali ke tenda dan bersiap untuk pulang. Rute turun dan nanjak sedikit sama. Untuk turun, kami mencoba rute ekspress dengan jalur tajam tapi sampai lebih cepat. Saat melewati kawah, tiba-tiba kaki Laoshi terkilir dan harus dipapah. Beruntung ada bala bantuan yang bersedia membawa keril dua (Thanks mas Tri dan Om Wer yang kebagian jatah dua keril. Hehe). Sesampainya di Basecamp, kami istirahat sejenak lalu perjalanan ke Papandayan ini berakhir di terminal Garut. Oh ya, jalanan menuju Papandayan ini jalannya rusak berat sehingga rasanya naik pick up seperti naik roller caster. Seru! hehe.. Tapi kabarnya jalan aspal ke Papandayan sekarang sudah bagus dan tak banyak yang rusak lagi.

Mari kita berkeliling Garut!
Mari kita berkeliling Garut!

Kami berempat, seperti yang dijelaskan sebelumnya, berencana untuk menambah liburan kami di Garut. Jadi, setelah semuanya turun di terminal, kami berempat meneruskan perjalanan dengan mobil pick up menuju Cipanas, Garut.

Kami memutuskan untuk bermalam di Cipanas sambil menikmati air panas yang kami bayangkan pasti menyegarkan badan dan mengurangi pegal-pegal setelah penanjakan. Akhirnya kami direkomendasikan menginap di sebuah penginapan murah seharga 150ribu permalam sekamar. Kami sewa satu kamar dengan 2 single bed. Cukuplah kami berempat untuk dua tempat tidur itu.. Kami kan kurus-kurus. Hehe.

Salah satu Kawah Kamojang
Salah satu Kawah Kamojang

72Esok pagi, karena kami diantar menuju destinasi tujuan menggunakan mobil pick up Mang Aep yang semalam mengantar kami. Destinasi pertama ke Kawah Kamojang yang melewati Geothermal milik Pertamina dan Chevron. Di salah satu Kawah Kamojang ini ada Bapak-Bapak yang menjaga dan membuat suara asap jadi ‘menarik’ dan atraksi asap panas dengan menerbangkan beberapa benda ringan. Wohoo..

78Destinasi ke dua ke Kebun Bunga dengan berbagai macam jenis bunga yang menarik dan area yang luas. Di sini juga disediakan penginapan yang kece. Oh ya, Kebun Bunga ini cocok juga lho untuk pesta kebun atau untuk resepsi pernikahan. Lumayan cakep lah. Nah, di sini ini Nyai harusnya gak dibiarkan sendiri.. Soalnya pas sampe sini, Nyai jadi mendadak autis menghilang untuk menikmati bunga sendirian. Hehe

Dan destinasi terakhir kami menuju terminal Garut untuk kembali ke Ibukota. Perjalanan sehari di Garut tidak cukup memuaskan kami, maka kami berencana untuk membuat Garut Trip ke 2 dengan destinasi rafting di Cikandang plus menyusuri pantai hingga daerah Bandung. Entah kapan, semoga terlaksana. Amin..🙂

Sampai jumpa Kamojang!
Thanks to Werry & Laoshi utk foto-fotonya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s