Escape To: #2 Gua Buniayu – Manusia Lumpur!


Tim Lumpur Buniayu :D
Tim Lumpur Buniayu😀

Jadi, perjalanan 23 – 24 November 2013 kali ini saya mencoba untuk menjelajahi gua di Buniayu, Sukabumi. Diajak oleh teman sejurusan—Aansky namanya—sejak sekitar seminggu sebelumnya. Yang ngusulin trip ini adalah temannya Aan waktu mereka ke Ujung Kulon (UK). Yang ikut ke Gua Buniayu jumlahnya 11 orang dengan keberangkatan sabtu pagi dan pulang minggu malam. Sebetulnya hingga jumat malam sebelum besok keberangkatan, saya masih galau antara tetap ke Buniayu atau kemungkinan ikut pelatihan dari instansi (yg sebetulnya dadakan). Daaan.. Tuhan tampaknya ingin mempertemukan saya dengan teman-teman baru yang gokil dan berlanjut ke pertemanan baru lainnya dan perjalanan bareng berikutnya, semacam lingkaran takdir pertemuan gitu. hehe.. Eksplorasi Gua Buniayu dengan sistem sharecost ini terdiri dari 11 orang: saya, Aansky, Masden, Topik, Iyut a.k.a Opung, Werry a.ka. Om a.k.a Tulang, Lavi a.k.a Nyai, Atik a.k.a Mpok, Ridwan a.k.a Ayam Sayur, Putra, dan Mbak Evi. So, here we are, “Lumpur” team at Buniayu’s Cave.

Perlengkapan yang dibawa: baju ganti (karena akan basah-basahan dan kotor-kotoran), headlamp, sarung tangan, sleeping bag atau jaket tebal, peralatan mandi, dan kaos kaki.

Sabtu, 23 November pukul 07.00 pagi saya sudah tiba di lokasi meeting point di Kp. Rambutan. Sialnya, saya lupa untuk beli cemilan dulu. Jadilah saya beli di warung di terminal yang harganya bisa hampir dua kali lipat *kapok*. Awalnya meeting point di halte Transjakarta Kp. Rambutan namun akhirnya diubah jadi di dalam terminal antar kota. Dan ternyataa, di dalam area terminal antar kota itu ada Indom***t sodara-sodara. Ah tau gitu.. *sudahlah*. Jujur, baru ini kali pertama saya masuk ke terminal antar kota. Wew.. Ramai ya. Hahaha..

Ternyata sudah datang juga beberapa orang. Karena saya hanya kenal teman saya yang seorang saja dan dia belum datang, so saya berkenalan dengan yang lain sambil mendengarkan yang lain bercerita tentang masing-masing trip yang pernah mereka ikuti sambil sesekali memainkan hp (walau kebiasaan saya tiap jalan pasti hp dimatikan sepanjang perjalanan). Lalu datang lagi dan datang lagi orang-orang hingga tersisa dua orang lagi yang akhirnya datang terlambat 2,5 jam sodara-sodara, dua setengah jam dari waktu yang ditentukan.. *jewer Aansky & Mas Deni!*

Tak ambil waktu lama, setelah semuanya hadir langsung kami menuju bis Sukabumi—yang tanpa AC dan mesinnya sempat terbakar *Rrr*. Mengingat dan menimbang bahwa hari itu adalah hari sabtu dan diprediksi jumlah kendaraan menuju Ciawi akan melonjak, jadi kondektur bis beriniatif untuk memutar rute perjalanan menjadi lebih jauh, sekitar 5 jam perjalanan dengan melewati Jonggol, Cianjur—yang saya tidak paham sebetulnya. *Hehe..* Rute yang biasa dengan harga 19 ribu melewati Ciawi kini beralih menjadi rute memutar melewati Jonggol Cianjur dengan harga 30 ribu. Lebih mahal tapi juga bisa lebih cepat sampai. (perhatian, tidak ada bis AC dr Kp. Rambutan ke Sukabumi ternyata).

Berhubung saya tipikal yang cepat berkeringat, dan kebetulan ada penjual kipas unyu-unyu seharga hanya 5 ribu saja, maka belilah saya kipas angin bergambar hello kitty dan berpeluit. *iya, beneran bisa berbunyi nyaring lho! Penting*

Akhirnya perjalanan panjang dan berpanasan dilewati juga dan sampailah kita di terminal Sukabumi. Sebelum melanjutkan perjalanan, ada baiknya kita beristirahat dan makan terlebih dahulu karena waktu menunjukkan pukul 1 siang. Jadi makanlah kita di sebelah terminal (alhamdulillah ya, gak pake harga getok). Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkot ke lokasi yang memerlukan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan dengan berkelok-kelok, berputar-putar, dan ngebut poll sampai tujuan. Lumayan bikin perut berasa dikocok mixer.. *fiuh*

Berfoto di depan homestay area Gua Buniayu
Berfoto di depan homestay area Gua Buniayu

Kita sampai ke lokasi sekitar jam 4 menuju jam 5 sore. Di Buniayu ini ada dua jenis gua, gua minat khusus dan minat umum. Akhirnya meskipun hari sudah senja, jelajah gua tetap dilanjutkan dengan rute jelajah gua minat khusus alias ekstrem alias ekplorasi gua yang penuh perjuangan. Jreeeng..

Pintu Masuk Gua Minat Khusus
Pintu Masuk Gua Minat Khusus

Setelah peralatan caving seperti baju khusus penjelajahan gua (mirip-mirip baju pekerja tambang gitu), sepatu boot, dan helm keselamatan dipakai, kami pun bersiap untuk ‘diterjunkan’ dengan ketinggian 18-20 meter ke dasar gua yang gelap gulita. Saya kebagian diturunkan paling akhir, lumayan dapat bonus difoto dua kali. Horay.. hehe.

Trio Kalong XD
Trio Kalong😄

Setelah semuanya turun, kita semua melanjutkan perjalanan menelusuri gua sepanjang 3,5 km tersebut. Secara resmi gua Buniayu ditemukan sekitar tahun 1982 setelah seorang penjelajah gua asal Makassar yang mengekplorasi gua Buniayu. Selanjutnya, mulai dijadikan objek wisata dan terbuka untuk umum pada tahun 1992. Begitulah kira-kira sejarahnya Buniayu, kata pemandu yang menemani kita mengeksplor gua.

Di sela-sela perjalanan menelusuri gua, bisa kita temukan mata air yang airnya sangat jernih, sangat segar, dan enak! Berbeda dengan rasa minuman mineral botol lainnya apalagi air keran di Jakarta. Kita juga bisa menemukan laba-laba gua, sarang-sarang kelelawar dengan bau khas mereka, juga belalang gua dengan bentuk kaki yang aneh. Mereka sudah kebal dengan kegelapan gua. Amazing! Sepanjang perjalanan juga ramai dimeriahkan oleh becandaan teman-teman biar gak berasa sepi-sepi amat ya, sampai terciptalah lagu berjudul ‘Lumpurkanlah Ingatanku” saduran dari Geisha. Haha

Istirahat dulu sambil foto-foto. :D
Istirahat dulu sambil foto-foto.😀

Hingga ke pertengahan gua, kami beristirahat sejenak. Pak Ucok, pemandu kami meminta kita semua untuk mematikan lampu dan jangan sampai ada cahaya sama sekali. Setelah semua cahaya tidak ada sama sekali, kondisi dalam gua gelap gulita. Sangaaat gelap. Berbeda jika ketika rumah dalam keadaan mati listrik, meski saat mati tiba-tiba gelap gulita, namun lama-lama meski samar-samar, kita masih bisa melihat dalam kegelapan rumah. Sedangkan di gua ini, tak ada sama sekali cahaya yang masuk. Lalu dimulailah wejangan dari pak Ucok. Sayangnya, karena kita duduk persis di pinggir aliran air yang deras, apa yang dikatakan oleh Pak Ucok sedari tadi, tak ada yang kedengaran sedikit pun.. *maaf ya pak..

Kemudian perjalanan dilanjutkan kembali dan kali ini tantangannya lebih berat. teman yang lebih dulu di depan sempat salah jalan dan dengan kondisi lumpur yang semakin dalam, lumayan sulit untuk memutarkan badan. Medan semakin menegangkan sodara-sodara, bertarung melawan lumpur! Bukan sembarang lumpur, melainkan tanah liat yang dalamnya bisa sampai setinggi lutut. Bayangkan jalan semakin sulit sampai harus merangkak-rangkak dan bahkan sepatu boot pun sampai terlepas tak mampu ditarik lagi oleh tenaga saya yang mungil ini. Huhuu.. di antara bebatuan pun sampai harus merangkak dan bahkan ada bagian yang tampaknya sangat berat untuk dilewati. Salah satu teman saya sampai nyeletuk “hoki gue abis gegara Buniayu nih”. Wkwk.. Tapi akhirnya bisa juga kami dilewati. Kita bisa! Yeay!!

Dan saya berada di posisi bontot bersama Nyai yang didampingi Aansky, Masden, dan Werry. Sedangkan Topik, Mbak Evi, Mpok, dan Opung dengan kecepatan cahaya sudah berada di atas. Hingga akhirnya terlihat cahaya di atas dan setelah menaiki tangga buatan, pintu keluar gua berada di puncak bukit yang saya yakin sangat indah. tapi berhubung kami keluar sekitar pukul 10an malam, jadi yang terlihat hanya bulan dan bintang-bintang yang superb. Lalu kita berjalan melewati ladang dan hutan dan tibalah di curug (air terjun) Bibijilan. Meski gelap, kita serbu ‘kolam’ tersebut dan langsung melaksanakan ritual bersih-bersih ala bidadari yang turun dari Kahyangan dan kehilangan selendang (apaan sih?!).

Oh ya, saran terbaik adalah janganlah membawa tas sekecil apapun saat akan jelajah gua. Kalaupun terpaksa bawa, bawalah yg paling mungil dan sangat disarankan untuk menutupi tas tersebut dengan plastik atau masukkan ke dalam baju khusus. Jangan sampai kejadian seperti saya yang membawa tas selempang hitam keren ukuran agak sedang, pas keluar dari gua jadi seperti cokelat yang meleleh.. Hehe. Untung sedikit waterproof jadi isi di dalamnya masih aman. *tetep kapok*

Tiba di homestay rumah penduduk sekitar pukul 11 malam–oh ya, akhirnya kami memilih homestay di rumah penduduk dengan menyewa satu rumah lengkap dngan kamar mandi di dalam biar lebih puass. hehe. Kita semua langsung menyambut hangatnya selimut warga.. Setelah terlebih dahulu ‘berebut’ kamar mandi untuk bersih-bersih, berebut colokan listrik sampai saat nyalain tivi langsung mati listriknya, hingga nge-tag tempat buat tidur. Haha..

Menuju pintu masuk Gua Minat Umum
Menuju pintu masuk Gua Minat Umum

Esok pagi, tak sabar untuk melanjutkan penjelajahan ke gua minat umum, yakni gua yang tak terlalu panjang dan sudah diberi undakan dan listrik. Sayangnya, listrik di gua tersebut sedang tidak bisa menyala jadi masih tetap berasa suasana gua-nya. After that, kita “bersenang-senang” sejenak dengan “bermain” di area playground anak-anak. Ada bermacam-macam alat ketangkasan untuk level anak-anak, termasuk wall climbing dan jejaring laba-laba dari tali.

gua minat umum
gua minat umum

Setelah itu, kita melanjutkan perjalanan sebentar menuju Curug Bibijilan.

Photo 24-11-13 09 47 09Setelah trekking sebentar, kita sampai di lokasi Curug dan jreeng.. ternyata itu adalah lokasi kami bersih-bersih dalam kegelapan tadi malam selepas caving. Dan yang saya kira kolam besar tadi malam itu ternyata puncak atas curug yang di pinggirnya jatuh air-air terjun. *duh, kebayang klo tadi malem ada yang terlalu minggir..*

Serasa dipijit di Curug Bibijilan :)
Serasa dipijit di Curug Bibijilan🙂

Rencana awal di Curug ini kami akan rapeling yakni memanjat air terjun tersebut. namun karena kondisi pemandu yang terbatas dan sedang memandu tamu lain yang datang, akhirnya kami cukup puas dengan berenang-renang ke tepian dan main-main air. Airnya hijau jernih dan dingin menyegarkan. Hoho.. Setelah dari Curug, kami mampir sebentar ke sentra pembuatan kue khas daerah sini. biskuit yang diisi tape lalu digoreng. hmm.. apa ya namanya? Lupa. Hehe..

Belajar jadi ibu rumah tangga. hehe
Belajar jadi ibu rumah tangga. hehe

Waktu pun sudah menunjukkan tengah hari dan saatnya kami harus kembali ke habitat semula dan bertatap muka dengan kejamnya ibukota. Setelah kembali ke homestay dan beres-beres packing, carteran angkot pun sudah tiba, kami mencoba mengejar kereta di Stasiun Sukabumi dan sayang sekali sodara-sodara, tiket harus dipesan sehari sebelumnya karena sudah habis klo beli on the spot.. *yah

Kami pun kembali lagi ke terminal dan naik bis menuju Jakarta tercinta. Total biaya yang harus dikeluarkan untuk masing-masing adalah Rp.254.727,- saja. Nah, sampai jumpa di trip berikutnya!

Basah-basahan
Basah-basahan
Setelah waktu hening
Setelah waktu hening
4
Rute menuju Curug
Opung lagi uji nyali :D
Opung lagi uji nyali😀
Rincian Biaya
Rincian Biaya
Bye!
Bye!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s