Escape To: #5 Gede – Hello There!


Gede1
Escape to Mount Gede: 2958 Mdpl. 9 – 11 May 2014

Sebetulnya dalam perjalanan kali ini, saya tidak mempersiapkan secara khusus karena kesibukan—yang diada-adakan. Tiga wiken dihabiskan berada di luar rumah sehingga tidak sempat untuk mempersiapkan diri secara fisik. Tapi optimis saja, yang penting seseruan. Yeay!

Lalu tibalah saatnya berlari!

Pendakian kali ini diikuti oleh 12 orang. Saya dan Laoshi diajak ke Gede ini sama Werry, sedangkan Werry kenal Kapten & Nia pas mereka ke Menjangan bareng. Alhasil di perjalanan kali ini saya kenalan dengan orang baru. Karena kami (men)Daki (Gunung) Gede, dan terutama si Kapten yang banyak dakinya, jadi terlebih dahulu saya perkenalkan nama tim kami: DAKI GEDE. Dakiers terdiri dari: Si Kapten pendakian Lingga a.k.a Kocrot, Gilang a.k.a Kecret, Nia a.k.a Kicrit, Mombo, Anna, Fetto—yg lagi pedekate sama Anna (dan sekarang mereka sudah jadian lho! *penting*), Mas Sugi dengan alat kegantengannya (baca: kacamata), Baim si anak Saleh yang naik dengan kecepatan cahaya (sumpah, kita baru jalan 10 langkah dia udah 100 langkah aja *mata belo*), Anjar—sepupu Gilang orang Sunda asli Sukabumi, si saya, Laoshi a.k.a Tante a.k.a Naomi, dan Om Werry—teman main dan teman ngetrip saat ke Gua Buniayu. Gunung Gede adalah pendakian kedua saya selama tinggal di Jakarta dan saya mencoba untuk merutinkan kegiatan pendakian seperti ini. Istilahnya, hiking santai dan kemping ceria.. Itung-itung menjaga kesehatan dan mengganti suasana selama di Jakarta gitu. Hehe

Dakiers full team. Wohoo

9 Mei 2014. Pukul 19.30 saya berangkat dari kosan di Cipinang Baru menuju Kp.Rambutan. lumanyun agak lama juga nungguin tante TJ yang lama hadir.. Tak lama datang juga dan berhubung harus transit di UKI, serta si Om sama-sama naik TJ, akhirnya janjian lah kita berdua ke Kp.Rambutan bareng dari UKI. Maklum kita searah tapi beda tujuan.. *apasih

Pukul 21.30 akhirnya kami sampai di Kp.Rambutan dan langsung menuju lokasi meeting point di area terminal luar kota. Di sana teman-teman lainnya sudah hadir daaan, tak lama kami kita bersiap untuk meluncur—naik bis menuju Cipanas, Cianjur.

Pukul 04.00 dini hari kami sampai di sebuah warung di Cipanas, setelah sebelumnya kami turun bis di Cibodas lalu naik angkot menuju Cipanas, jalur pertama yang akan kita lalui. Agak lama kami sejenak berleha-leha di warung, terutama mengistirahatkan badan barang sejenak. Namun seperti biasa, tubuh ini gak bisa diajak kompromi untuk tidur walau se-ngantuk apapun jika kondisinya di tempat asing. *huft* Berbanding terbalik dengan lelaki sebelah saya yang baru rebahan aja sudah ke terbang ke alam mimpi. Begitulah, hebatnya si Om Werry ini. Di mana aja bisa tidur, klo mepet tidur sambil berdiri juga bisa doi mah. *piss Hehe

Dan mendadak perut pun terasa lapar jadi saya makan dulu saja. Indomie rebus plus sayuran. Sedaap… Beberapa teman pun melakukan hal yang sama. Ngopi-ngopi cantik.

Pukul 6 pagi kami siap-siap meluncur namun sebelumnya harus setor muka dulu ke Pos Rangers untuk pendataan siapa saja yang akan mendaki. Sial, padahal sudah akai sandal gunung plus kaos kaki tapi karena gak pakai sepatu (iya, itu si kapten ngasih taunya mendadak harus pake sepatu. Dan aku kan tak punyaa.. Kzl.), alhasil saya dilirik Rangers dan diminta menandatangani surat pernyataan. Hadeuuh.. apes. Haha

Lagi nunggu antrian sembako, eh, Simaksi..
Lagi nunggu antrian sembako, eh, Simaksi..
Jalur awal
Jalur awal

Perjalanan dimulai. Pada awalnya jalur landai dan menyenangkan.. Lama-lama jalur mulai menanjak dan hebatnya (?!) jalur pendakian sudah dirapikan dengan batu-batu dan sebagian ada yang diplester. Jalur yang ‘dimodernisasi’ tersebut sebetulnya membuat kami sedikit menjadi beban, karena pijakan yang begitu, apalagi kami—saya maksudnya hehe—sering berhenti untuk menarik nafas dan melihat pemandangan. Dan yang lebih bikin amajing lagi adalah sepanjang jalur pendakian, bapak-bapak dan ibu-ibu juga anak muda tampak duduk manis berjejer menjajakan makanan dan minuman hangat. Di lokasi kemping saat di pagi hari pun rasanya kita berada di rumah karena tiba-tiba terdengar suara “Uduk neng.. Uduk..” haha, bener-bener gak berasa lagi kemping kecuali udara dinginnya yang sungguh gila.

Pendakian
Pendakian
Siap-siap bergaya di depan kamera.

Akhirnya sampai juga di Surya Kencana! Sabana luas terbentang dengan edelweiss di mana-mana. Di sini juga kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sisi pepohonan agar angin kencang berkurang. Sebelum mendirikan tenda, saya sempatkan untuk tiduran Sabana yang terbentang di mana angin sepoi dingin menyapa lembut wajah kita. Sungguh damai setelah sekian lama kita lelah berjalan..

Sabana Surya Kencana
Sabana Surya Kencana

Kawan-kawan yang summit di pagi hari
Kawan-kawan yang summit di pagi hari

Namun sayang, sebetulnya kondisi saat saya nanjak itu sedang tidak begitu fit. Kepala agak sedikit pusing sehingga saya harus minum banyak Anta***n cair dan obat pereda nyeri. Efeknya, saya tidak sanggup untuk mengejar summit di waktu matahari terbit.. *alesan*

Setelah kawan-kawan yang summit turun kembali, tak berapa lama setelah kita memasak dan sarapan, kami pun packing dan membongkar tenda. Perjalanan kami lanjutkan melalui rute berbeda, melewati puncak  dan area kemping Kandang badak hingga keluar di jalur Cibodas (iya, yang ada air terjunnya itu lho).

Curug yang entah saya lupa namanya.. Hehe
Curug yang entah saya lupa namanya.. Hehe
Tanjakan Setan
Tanjakan Setan

Sesampainya di Kandang Badak, kami bongkar matras lagi untuk beristirahat dan masak-masak, makan-makan (lagi!). sekira pukul 3 sore saat kami sampai di Kandang Badak. Udaranya masih tetap, dingin dengan angin yang semilir sejuk bingits. Lalu kami melewati jalur kecil air panas yang kalau kita menoleh ke bawah cuma asap panas yang kelihatan dan kondisi jalan yang kami lalui licin karena air yang mengalir. Melalui jalur ini kita harus jalan satu persatu dan antri dari arah berlawanan. Entah kenapa, saat melewati jalur ini, kondisi jiwa (halah) mendadak tidak begitu stabil.. mungkin karena trauma kena dua kali air panas sewaktu kecil kali ya.. *hiks

Jalur semakin menyenangkan walau dengan undakan-undakan yang sudah dibuat sedemikian rupa.. Namun kondisi kami (saya maksudnya dan beberapa teman. hehe) sudah semakin lelah. Juga pergelangan kaki Laoshi terkilir jadi harus kami papah. Kondisi logistik pun sudah sangat menipis. Akhirnya sampai di basecamp Cibodas pas tengah malam lewat.. istrirahat sejenak dan bersih-bersih. Lalu kami lanjut turun kembali ke “peradaban”. Nasi Padang tampak sangat menggiurkan, maka isi bensin dulu lah kita sambil menunggu datangnya bis. Jrengg.. bis pun hadir sekira pukul 3 dini hari. Kondisi bis sangat penuh sehingga beberapa teman terpaksa harus berdiri (kebayang betapa lelahnya tapi tetap harus berdiri). Entah saking capeknya atau bis yang super ngebut, gak berasa bis sampai di Kp. Rambutan dengan durasi kurang satu jam tampaknya. Dakiers bubar jalan di Rambutan. Saya, Om, dan Laoshi karena satu arah jadi naik taksi bareng ke arah Utara. Sampai di kosan pukul 4, tidur sejenak lalu pagi pukul 7 harus siap-siap ke kantor. Sesampainya di kantor langsung tidur lagi.. *ups Hehe.

Puncak Gede
Puncak Gede

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s