Escape To: #1 Baduy!


Wejangan yang tertera di perkampungan menuju Baduy Dalam
Wejangan yang tertera di perkampungan menuju Baduy Dalam

              15 – 16 Juni 2013 kemarin saya beserta komunitas Nol Derajat Indonesia (NDI) melakukan trekking yang luar biasa ke kampung Baduy Luar dan Baduy Dalam. Cuma ingin berbagi, mudah-mudahan pengalaman yang dishare dalam tulisan ini membut anda iri untuk pergi. Hehehe…

               Oke, dimulai pada pukul 07.00 pagi waktu Jakarta, di mana para orang-orang yang ikut trip ke Baduy ini berkumpul, di stasiun Tanah Abang untuk bersama-sama berangkat menuju stasiun Rangkasbitung, kota di mana kita akan memulai perjalanan menuju Kampung Baduy. Tak lama, akhirnya kereta tiba. Beruntung, kita dapat gerbong kereta ekonomi baru dengan ac split. Katanya sih baru perdana hari itu dimulainya kereta ekonomi menggunakan ac. Hoho..

               Sampai di stasiun Rangkasbitung, kita menuju elf-elf yang menanti di pangkalannya. Karena jumlah kami banyak dan dibagi ke beberapa kelompok, so kami menggunakan dua elf. Jalur yang digunakan untuk berangkat dan pulangnya berbeda. Saat berangkat, saya duduk di dalam elf. Pulangnya? Mari roller coaster di atas elf!! Wohooo…

Menikmati perjalanan pulang di atas elf dengan kondisi jalan naik turun yang menegangkan!
Menikmati perjalanan pulang di atas elf dengan kondisi jalan naik turun yang menegangkan!

              Perjalanan berkelok-kelok dengan menggunakan elf pun berakhir di pintu masuk Baduy Luar. Di sana, sudah menanti beberapa lelaki tangguh dewasa dan anak kecil dari Suku Baduy Dalam dengan pakaian khas-nya berwarna putih dan celana pendek bahan berwarna hitam. Plus penutup kelapa berwarna putih dan kalung tradisional mereka juga tas rajutan buatan sendiri. Dengan bahasa Indonesia yang terbatas bahasa Baduy yang khas, mereka siap menjadi guide dan porter bagi teman-teman yang membutuhkan. Bayangkan ada anak Baduy Dalam berumur sekitar 10 tahun yang sanggup membawa beban yang saya kira lebih berat dari tubuhnya namun berjalan dengan enteng sekali melewati bukit dan lembah. *tepuk tangan*

Teman-teman dari Baduy Dalam yang siap menjadi guide kami
Teman-teman dari Baduy Dalam yang siap menjadi guide kami

               Setelah beristirahat sejenak dan pembagian kelompok, akhirnya kami pun siap berangkat melewati perkampungan Baduy Luar. Perjalanan ternyata lumayan jauh ya.. hahaha. Menjelang sore kami hampir tiba di lokasi, namun sayangnya tanda-tanda hujan deras sudah terlihat daritadi. Alhasil, sebelum sampai di lokasi perkampungan Baduy Dalam yang menjadi destinasi tinggal kita, hujan deras pun turun.. berlarian lah kita melewati lumbung-lumbung padi sampai akhirnya tiba di perkampungan Baduy Dalam yang terasa hangat menyambut kami..

               Kami tinggal di tiga rumah keluarga Baduy Dalam. Mereka ramah dan sangat hangat. Apalagi karena memang mereka menaruh “kompor” alias api unggun untuk memasak di dalam rumah mereka. Hehehe.. Suasana di dalam rumah mereka dengan bahan dari bilik kayu dan rotan terasa hangat dan nyaman (walau saya dapat posisi tidur yang tepat di rotan yang menonjol. Heuheu).. Rumah yang saya tempati bersama teman-teman merupakan rumah dari keluarga muda dengan seorang anak perempuan dan balita lucu menggemaskan. Ditambah kondisi fisik orang Baduy Dalam itu putih, berkulit bagus, dan para lelakinya ganteng-ganteng dan perempuannya ayu-ayu, jadi pengen bawa pulang satu.. hehehe.

Ini dia jembatan pembatas antara Baduy Luar dengan Baduy Dalam. Sampai sini, stop foto-fotonya ya :)
Ini dia jembatan pembatas antara Baduy Luar dengan Baduy Dalam. Sampai sini, stop foto-fotonya ya🙂

            Sayangnya, sejak di jembatan sebagai perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam, kami tidak diperkenankan untuk memfoto area di Baduy Dalam. Tapi tak apa, saya justru mengapresiasi dan sangat menghargai larangan tersebut. ditambah larangan tidak menggunakan peralatan yang mengandung zat kimia: sikat gigi, sabun, sampo, dan gadget alias hp. Justru membuat saya benar-benar berada dan diselimuti alam semesta saat segala macam ‘barang’ tersebut saya tinggalkan sejenak.

            Selain itu, di Baduy Dalam pun kami dilarang untuk mendekati area sesepuh atau rumah kepala kampung dan kami dilarang ke lokasi ‘pura’ tempat ibadah mereka yang letaknya di seberang sungai tempat Suku Baduy Dalam membuang hajat dan mencuci segala macam keperluan. Airnya sangat bening dan dingiinn! Oh ya, juga di malam hari saat kami ke sungai (bayangkan gelap gulitanya sekitar dengan hanya mengandalkan lampu senter), kami menemukan jamur luminoscense alias berwarna terang di saat gelap! Amazing.. seperti hal-nya di film Avatar.. gak banyak sih yang kami temukan, tapi keren.. Sungguh keren.

            Jadi ada kisah kenapa ada pembedaan antara Baduy Luar dengan Baduy Dalam. Berhubung saya menulis kembali perjalanan saya ke Baduy ini 2 tahun kemudian, jadi mohon maaf mengecewakan kalau saya sudah lupa cerita detailnya seperti apa. Haha..

            Tapi secara garis besar, Baduy Luar khas dengan pakaian hitam mereka dan batik berwarna biru. Sedangkan Baduy Dalam pakaian khas mereka berwarna putih dengan bawahan berwarna hitam. Baduy Dalam tidak menggunakan alas kaki dan tidak menggunakan alat modern apapun (kecuali makanan ya, karena ternyata ada suku Baduy Luar yang menjual bakso dan cemilan di perkampungan Baduy Dalam. Hehe). Baduy Dalam memiliki waktu-waktu tertentu yang menjadi ibadah mereka dan lokasi tertentu yang sakral dikunjungi oleh orang di luar suku mereka. Dan oh ya, orang bule dan orang Asian selain pribumi dilarang masuk wilayah Baduy Dalam. So, kalau ada teman kamu yang orang Jepang atau Swiss ingin berkunjung ke Baduy Dalam, bisa dipastikan mereka akan ditolak sebelum sampai jembatan pembatas. So, bae-bae dah itu dibilangin lebih dulu ya sebelum diajak.. Karena lumayan juga lho trekkingnya dari Baduy Luar ke Baduy Dalam. Dan persoalannya bukan Baduy Dalam menolak modernisasi atau teknologi, tidak tidak. Toh senter dan kontak kami dengan pihak Baduy Dalam tetap menggunakan teknologi meskipun mereka tidak memiliki alat tersebut. Tapi menurut saya, lebih karena untuk menjaga kearifan lokal dan budaya-budaya leluhur yang terus mereka pegang teguh. Yang menarik, keyakinan yang mereka anut adalah Sunda Wiwitan, namun di ktp tertulis bermacam-macam: Islam, Budha, Katolik, Hindu, dan sebagainya. Mereka tetap menjadi bagian dari bangsa Indonesia dengan tetap tidak melupakan akar dan asal-usul mereka sendiri. Salut!

            Esoknya dalam perjalanan pulang, kami melalui rute berbeda dengan tetap dipandu oleh orang baduy Dalam. Karena kondisi yang sore sebelumnya dan semalaman hujan, alhasil jalur trekking kami licin dan wooohh.. sungguh terjal. Tapi seru karena pemandangan yang kita lihat tidak sia-sia. Bayangkan kita melihat semacam ‘tumpukan’ rumah khas Baduy Dalam dari kejauhan di atas bukit.. serasa di mana gitu.. serasa di Baduy sih pastinya. Haha..

Kampung Baduy Dalam di atas bukit
Kampung Baduy Dalam di atas bukit

            Syukurnya saya (tapi tidak dengan kawan-kawan lain. hehe), kedatangan kami tidak bertepatan dengan musim Durian yang juga menjadi khas Suku Baduy Dalam. Dalam perjalanan pulang tersebutm kami melewati perkebunan kelapa.. Tadinya kami akan mencicipi Degan yang diambil langsung dari pohon kelapa, namun sayangnya akibat dari hujan jadi kondisi pohon kelapa tersebut tidak memungkinkan untuk dipanjat. Akhirnya setelah sekitar tengah hari, kami sampai di area perkampungan suku Baduy Luar.. Yeay!

Melewati lumbung padi Baduy Luar: Sepasang suami-istri paruh baya masih semangat berseru ria ikut trip bersama kami. Romantis sekali ya :)
Melewati lumbung padi Baduy Luar: Sepasang suami-istri paruh baya masih semangat berseru ria ikut trip bersama kami
Seorang kawan sedang memotret perempuan dari suku Baduy Luar yang sedang menenun dari depan rumahnya.
Seorang kawan sedang memotret perempuan dari suku Baduy Luar yang sedang menenun di depan rumahnya.

             Demikianlah perjalanan saya kali pertama keluar Jakarta dengan wisata budaya. Setiap perjalanan selalu berkesan dan tak ada kata-kata yang sanggup mengungkapkan. Maka kisah Baduy ini, juga kisah-kisah selanjutnya tentang perjalanan tak akan pernah usai selama kita tidak berhenti untuk menjelajahi setiap sudut negeri. Nah, sebelum keluar dari Baduy Dalam, alangkah baiknya untuk membeli madu khas Baduy Dalam, suvenir berupa tas rajutan, kain khas Baduy, atau aksesoris lainnya untuk mendukung kehidupan orang-orang Baduy Dalam ya. Dukung produk lokal begitu ceritanya. Salam!🙂

Oleh-Oleh Baduy Luar dan Baduy Dalam
Oleh-Oleh Baduy Luar dan Baduy Dalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s