Mencintai dalam Hening


Jika Tuhan menciptakan perbedaan, kenapa pula harus menciptakan cinta di antara keheningan?

Yang menarik jiwa untuk terus berjumpa bukanlah karena kebetulan belaka, tapi Tuhan telah mengaturnya semua..

***

Kukira, sebagian dari tubuh ini yang seringkali merasakan sakit hati, telah menjadi kebal dan bebal kepada cinta yang tak pernah benar-benar ada. Menjadi kebas lalu mati rasa. Sudah bukan saatnya lagi bersikap kekanakan dengan mengharapkan datangnya sang Ksatria Impian. Sebab akhirnya, Ksatria idaman adalah refleksi kita sendiri yang terejawantahkan ke dalam wujud yang sejatinya tak akan pernah mampu kita miliki. Terlalu sempurna untuk menjadi manusia. Terlalu kebal terhadap rasa.

Maka ketika lalu seseorang datang lagi dengan tiba-tiba, dengan segala rumus dan persyaratan yang pernah kau puja akhirnya ada padanya, kau pun menangis dan menuntut pada Tuhan atas permainan apa yang sedang dijalankan. Sebab ketika seseorang itu datang, dengan segala yang kau idamkan, hanya ada satu pembatas prinsip tajam yang berat kau lewati.. Misalkan dengan perbedaan keyakinan.

Engkau tak tahu pada keyakinan apa yang dia pegang. Meskipun kau menerima kebebasan, tapi tidak dengan keluargamu, kerabatmu, sahabat-sahabatmu, masayarakat di sekitarmu. Sebab membina keluarga bukan persoalan hanya berdua, tapi ada orang tua dan keluarga. Tapi bila mungkin, sesungguhnya persetan dengan itu semua. Namun apakah dia memiliki cara pandang hidup yang sama?!

Dan bagaimana jika kau menemukan dia, dia yang memiliki jiwa yang sama, perasaan yang sama, sifat yang sama, kesenangan yang sama.. namun juga memiliki kegelisahan yang sama.. Baginya, maju atau mundur sama saja; maju atau mundur di antara cinta dan keyakinan.

Aku merasa, di balik tawa lepas kami berdua, di balik keluh dan kesah diam-diam dalam pesan pribadi, di balik tiap kebersamaan yang kami jalani, di balik doa yang kami panjatkan dalam hati.. Kami menyadari keterbatasan yang ada. Bagi kami, pada akhirnya menjadi sahabat berbagi cerita, itu terlampau indah dan lebih dari cukup untuk membuat kami merasakan bahagia bersama… Dia adalah cerminanmu dan dirimu adalah cermin baginya. Dua jiwa yang terperangkap dalam cermin yang sama, namun tak mampu berbuat apa-apa. Hanya doa kebahagiaan yang selalu menyertai dan kebersamaan sebagai kawan seperjalanan.

Kekasih jiwa yang tak pernah ditakdirkan untuk menjadi nyata.

Begitulah, dan kami pun saling mencintai dalam keheningan di antara kerianggembiraan setiap perjalanan dan petualangan yang kami lewati bersama.

Amor Platonicus.

6 May 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s