Kesadaran Itu Membingungkan


Kesadaran itu membingungkan.

Tadi siang aku membaca tentang tulisan Fahd Djbran berjudul ‘Nowhere’. Dan ya, tanpa kita sadari kita menjadi manusia-manusia robot yang lupa kenapa kita hidup, bekerja, dan berkeluarga—setidaknya itu yang saya pahami. Bagi saya, kesadaran itu begitu membingungkan. Karena ketika kita menyadari segala sesuatu dengan detail, apa saja yang telah kita lakukan, maksud dan tujuan di balik semua perbuatan, maka kita akan mendapati bahwa tidak ada apa pun yang layak diperjuangkan kecuali untuk kehidupan abadi di dimensi lain. Kehidupan setelah kematian—bagi orang yang meyakininya. So, what’s the next?

Yang ingin saya katakanlah adalah bahwa ketika kita menyadari bahwa ada hal-hal yang seharusnya tidak kita lakukan, tapi tetap kita lakukan sebab formalitas baku yang terjadi di masyarakat, maka kemudian kita menjadi resah dan bertanya-tanya. Apakah semua yang saya lakukan sudah benar? Apakah semua keinginan saya terpenuhi? Bagaimana jika saya melakukan sesuatu yang sejak lama ingin saya lakukan tapi tak juga dilakukan karena terkendala dengan formalitas dan penilaian masyarakat?!

Norma! Anggaplah sekarang saya sedang jatuh cinta saat ini. Jatuh cinta pada atasan atau rekan kerja yang sudah mempunyai pacar atau istri. Lantas apa yang saya lakukan? Apakah berpura-pura bahwa saya tidak cinta orang tersebut dan bersikap sewajarnya ataukah harus saya tunjukkan? Saya menyadari bahwa ketika saya mempunyai perasaan seperti ini, maka kesadaran seperti inilah yang membingungkan. Apakah akan menjadi baik ketika orang-orang menyadari keberadaan dan perasaan mereka? Ataukah hidup selayaknya manusia, buang jauh perasaan itu sebab itu hanya halusinasi dan dianggap ‘dosa’ pada tatanan masyarakat kita yang dianggap beradab ini?!

Lagi-lagi yang membingungkan adalah, apakah akan menerima dan tetap menikmati ‘perasaan’ ini kepadanya hingga suatu saat perasaan itu habis tak bersisa, ataukah mendoktrin diri sendiri bahwa hal itu adalah salah dan perlu dibenahi moralitas diri? Intinya sih, saya tidak sedang menceritakan fenomena Hello Kitty yang berasal dari salah satu sinetron Indonesia yang booming saat ini—yang justru membuat orang-orang memberanikan diri untuk berselingkuh.

Bagaimana pun, saya secara pribadi tetap mengikuti alur logika bahwa sepantasnya kita menghormati pasangan rumah tangga orang lain dan bahwa manusia yang bermartabat adalah manusia yang memantaskan diri dengan tetap setia pada pasangannya.

26 desember 2011-2014. Dengan revisi.

Meski sakit, meski luka, menusuk sukmaku.

Kuyakini cinta pasti hadir secara tak terduga

Melaluimu, atau mungkin orang yang tak dikira

Namun sungguh, jikalau cinta itu memang ada

Aku ingin dia ada saat aku pun ada

Sama dalam cinta yang saling membahagiakan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s