The Witch of Portobello


witch

waktu kita di bumi ini sakral adanya, dan kita seharusnya merayakan setiap detiknya.” Paulo Coelho-The Witch of Portobello

Alkisah dalam novel Paulo Coelho yang diberi judul “The Witch of Portobello”, gadis bernama Athena menjadi pusat perhatian karena dia mampu ‘menarik’ orang untuk kemudian mengikutinya menari. Ya, dia mengajarkan—berdasarkan pengalaman pencariannya terhadap Tuhan—bahwa dengan tarian dan musik, manusia akan mencapai penyatuan dirinya dengan Tuhannya. Sebuah pencarian sejati dalam berbagai perjalanan hidup yang dia alami.

Ketika namanya melambung dari mulut ke mulut, maka muncullah kelompok yang kontra pada apa yang dia lakukan, utamanya dari kalangan agamawan yang menganggap bahwa apa yang Athena lakukan adalah sebuah bentuk pemujaan setan dan berasal dari kaum pagan. Berbondong-bondong para agamawan dan kelompok yang mengklaim dirinya religius melontarkan aksi protes dan penuntutan Athena untuk diusir dari wilayah tersebut. Tapi jangan salah, ada juga kelompok yang mendukung keberadaan Athena dan ajaran-ajarannya yang bagi mereka mencerahkan tanpa perlu menerima dogma-dogma agama yang memaksakan. Dan mereka mempertahankan keberadaan si gadis dengan begitu kuat.

Namun sayang, nasib Athena begitu tragis. Tiba-tiba berita sedih datang secara mengejutkan. Dia tewas tanpa diketahui siapa pelakunya. Entah dari kelompok kontra yang sudah muak dan resah dengan pengaruh atau yang mereka sebut sihir Athena yang semakin kuat ataupun kemungkinan pelaku berasal dari kelompok yang pro, yang menganggap bahwa Athena harus ‘diselamatkan’ dan satu-satunya jalan adalah dengan ‘membawa pulang’ ke kerajaanNya.

Seringkali apa yang Athena lakukan, di mata orang awam begitu ganjil dan tak dapat diterima, karena sikap dan perilaku dia yang tak umum selayaknya manusia biasa lainnya. Athena bukanlah manusia biasa tetapi juga Athena bukanlah malaikat. Juga Athena bukanlah seorang penyihir, karena yang dia miliki hanyalah tarian dan musik tanpa jampi-jampi ataupun ritual suci apa pun. Perjalanan Athena untuk mencapai kesejatian dirinya pun tidak mudah. Berbekal pencarian dasarnya terhadap siapa orang tua aslinya, Athena bertekad untuk mendatangi tanah leluhurnya yang dikatakan berasal dari kalangan kaum gipsi. Juga, Athena hanyalah seorang perempuan biasa yang memiliki anak dan suami serta orang tua angkat yang begitu mengasihinya. Ya, Athena hanyalah seorang perempuan biasa yang bisa tertawa, bersedih, dan terluka, juga berbahagia.

Demikian sekilas review saya mengenai salah satu buku Paulo Coelho yang berjudul Penyihir dari Portobello (The Witch of Portobello). Paulo Coelho, seperti yang kita ketahui bahwa dia banyak menulis novel spiritual yang melewati batas semua lembaga yang bernama agama.

Bagi saya, yang ingin disampaikan Coelho melalui bukunya adalah pesan berupa kebajikan dan kebaikan universal yang dapat diambil oleh semua orang. Kebajikan universal yang dimiliki oleh setiap lembaga agama di dunia. Tentang mimpi, harapan, ketakutan, pencarian terhadap Tuhan, maupun alam transendental.

Selamat membaca!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s