Kepemimpinan ala Khaddafi


khadafi

1.      Pandangan dan Pemikiran Muammar Al-Khaddafi

Muammar Al-Khaddafi, dengan gayanya yang unik mengembangkan falsafah politiknya sendiri yang begitu berpengaruh sehingga dianggap mengalahkan apa pun yang diimpikan oleh Plato, Locke, ataupun Marx (David Akhmad Ricardo: 2011). Tahun 1975 dia membuktikan diri sebagai filsuf politik terkenal dengan mengembangkan satu teori bernama teori universal ketiga yang dipaparkannya secara mendalam dalam buku terkenalnya Green Book/Buku Hijau setelah sepuluh tahun memimpin Libya. Teorinya adalah menyelesaikan kontradiksi yang ada secara melekat dalam kapitalisme dan komunisme, guna mengantarkan dunia ke revolusi politik, ekonomi, dan sosial untuk membebaskan kalangan tertindas di manapun.

Buku Hijau menjabarkan tiga paham dasar, yaitu “Demokrasi berdasarkan Kekuasaan Rakyat,” “Ekonomi Sosialisme” dan “Teori Internasional Ketiga.” Paham itu lalu menjadi panduan bagi sistem demokrasi a la Khaddafi, sekaligus panduan politik luar negeri Libya yang mengundang kontroversi. Dalam Buku Hijau bagian pertama, Khaddafi menolak demokrasi liberal ala Barat dan mendorong sistem demokrasi langsung berdasarkan pembentukan komite-komite rakyat. Sebab menurut Khaddafi, parlemen sama sekali tidak merepresentasikan rakyat atau bisa dikatakan sistem perwakilan atau penunjukan anggota parlemen tidak bisa mencerminkan aspirasi masyarakat. Bagi Khaddafi, rakyat yang murni dan tidak terwakilkan tetaplah menjadi kedaulatan tertinggi.

Dalam Buku Hijau bagian kedua, dijelaskan mengenai basis ekonomi. Dikatakan dalam buku tersebut bahwa dalam sejarah manusia, sistem ekonomi tidak banyak berubah. Permasalahan yang dihadapi hampir sama: pembagian keuntungan antara pekerja dan pengusaha, upah pekerja, hak pekerja, atau batasan pendapatan untuk pengusaha. Segala solusi yang dilakukan era pasca revolusi industri seperti jaminan undang-undang dan serikat buruh dianggap gagal oleh Khaddafi. Menurut Khaddafi, solusinya adalah kembali pada hukum alam ketika belum ada kelas dalam kehidupan bermasyarakat. Aturan-aturan alam telah melahirkan sosialisme alam berdasarkan kesetaraan di antara komponen-komponen ekonomi, kesamaan konsumsi, dan kesamaan produksi dari masing-masing individu. Khaddafi berpikir bahwa masalah dasar manusia adalah hasrat untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan inilah yang menjadi dasar eksploitasi antara satu individu dengan individu lainnya sehingga Khaddafi menganjurkan agar manusia bisa mengendalikan kebutuhan-kebutuhannya.

Bagian ketiga dari Buku Hijau adalah mengenai hubungan sosial di antara individu. Menurut Khaddafi, hubungan sosial yang paling mendasar adalah keluarga. Lingkup sosial yang lebih luas adalah suku dan suku yang lebih besar adalah bangsa. Khaddafi tidak setuju mengenai berbagai macam bentuk penindasan dan bahwa pendidikan harus membebaskan.

Dari pemikiran-pemikiran Khaddafi ini bisa diketahui bahwa sebenarnya dia termasuk pemikir cemerlang. Dia resah pada kapitalisme justru ketika kapitalisme sedang mencapai puncak di abad 20. Dia melawan sistem politik dunia (demokrasi) dengan mengajukan masyarakat sosialis alami. Dia mengadopsi pemikiran Marx sekaligus memakai konsep dasar negara sebagaimana yang ada di dalam Islam. Baginya demokrasi adalah tirani, meskipun apa yang dia idealkan sebenarnya sangat demokratis.

Selain itu, mimpinya tentang Arab bersatu dipengaruhi gagasan Gamal Abdul Nasser dan Khaddafi berniat meneruskan Pan Arabisme yang dirintis presiden pertama Mesir itu. Maka, dua tahun setelah Nasser wafat pada 18 September 1970, Khaddafi menggagas pendirian Federasi Republik-Republik Arab yang meliputi Libya, Mesir, dan Suriah. Tapi ide itu gagal. Dia mencoba lagi pada 1972, dengan menggandeng Tunisia, tapi usaha itu pun gagal juga.

2.      Analisis Gaya Kepemimpinan Khaddafi

Sikap Khaddafi yang memaksakan pemikiran pribadinya tentang sosialisme Libya dan menasionalisasi semua aset pihak asing di Libya hingga keputusannya membuat Libya sebagai negara tertutup, merupakan tindakan otoriter karena hal tersebut hanya berdasarkan pemikirannya pribadi tanpa mengikutsertakan pandangan dari masyarakat Libya dan para pengikutnya. Khaddafi melihat bahwa situasi pada saat revolusi yang dilakukannya merupakan peluang untuk mengambil alih kepemimpinan dan menguasai Libya. Pada saat itu, Khaddafi didukung oleh situasi dan kondisi Libya di mana sangat membutuhkan pemimpin sejati—yang mana tidak muncul pada diri Raja Idris I—sebab pada saat itu Libya dikuasai oleh asing dan rakyatnya miskin.

Khaddafi kemudian muncul dan tampil sebagai ‘penyelamat’ Libya. Dengan pangkat kolonelnya, Khaddafi mampu menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang berada di Libya dan mampu menyejahterakan rakyatnya dengan berbagai program berdaulat Libya terhadap kekayaan alamnya yang melimpah. Bahkan dengan aksi dan program yang dilakukan Khaddafi tersebut, Libya kemudian mampu muncul dan bertarung di dunia internasional menghadapi negara Eropa.

Segala tindakan dan keputusan Khaddafi diambil berdasarkan pandangan dan pemahaman dia yang dielaborasi dari pengalaman-pengalaman atau sejarah negara-negara Timur Tengah, baik Afrika maupun Arab, dan gaya kepemimpinan Nasser yang dikagumi dan kepemimpinan Raja Idris I yang digulingkannya. Manifesto Khaddafi tersebut kemudian dituangkan ke dalam sebuah buku berjudul Buku Hijau, yang diharapkan oleh Khaddafi bahwa manifesto tersebut menjadi bahan acuan untuk memimpin sebuah negara menuju kemakmuran dan kejayaan.

Namun sayangnya, pandangan dan pemikiran yang Khaddafi tuangkan ke dalam Buku Hijau merupakan hal yang utopis sebab pada faktanya, apa yang dilakukan oleh Khaddafi terhadap rakyat Libya justru jauh melenceng dari apa yang dia jabarkan dalam buku tersebut. Banyak hal yang justru bertentangan dengan apa yang tertulis di dalam Buku Hijau. Bisa jadi hal tersebut terjadi karena tataran teoritis yang ideal dan sempurna seringkali berbenturan dalam tataran praktis yang realistis.

Meskipun Khaddafi tidak menyebut dirinya pemimpin Libya dan pembagian kekuasaan negara ada secara struktural, namun kekuasaan mutlak tampak berada di tangan Khaddafi. Sejak 1969, tampuk kekuasaan di Libya diwarnai dengan pembagian kekuasaan bukan saja kepada relasinya di “Revolutionary Command Council”, akan tetapi juga kepada beberapa putranya sehingga ada pula asumsi bahwa politik di Libya merupakan family affair. Sudah menjadi rahasia umum bahwa semua putra Khaddafi memiliki posisi penting, baik di dalam pemerintahan maupun di struktur lainnya seperti perusahaan nasional.  

Keegoisan Khaddafi yang tercermin dalam sifat dan perilaku putra-putranya memgakibatkan kekecewaan masyarakat Libya. Salah satu contohnya adalah salah satu putra Khaddafi, Hannibal Muammar Khaddafi, yang tertangkap di Jenewa Swiss karena menyiksa pembantunya, malah dijadikan alasan kebijakan politik luar negeri yang tidak strategis, yakni berupa pemboikotan produk Swiss, pencabutan hak usaha bagi para pengusaha Swiss di Libya, dan bahkan penarikan diplomat Swiss dari Libya. Hal tersebut tentu saja bukan berdasarkan atas kepentingan rakyat Libya melainkan lebih kepada egois pribadi. Contoh tersebut merupakan bagian dari kepemimpinan situasional dalam kondisi yang tidak mendengarkan pandangan pengikutnya serta tidak melihat kondisi dan situasi yang berkeadilan bagi rakyat Libya.  

Ambisi Khaddafi dalam menyatukan negara-negara Arab meneruskan mimpi Gamal Abdul Nasser tidak berjalan mulus. Hal tersebut disebabkan usia Khaddafi yang masih muda dan cenderung naïf, sehingga sangat sulit untuk menggerakkan pemimpin Arab yang pragmatis untuk mewujudkan visi yang sudah lama belum terwujud tersebut. Apalagi ditambah dengan gaya Khaddafi muda yang ambisius dan keras yang gagal membina hubungan dengan rekan-rekan Arabnya. Kondisi tersebut jelas terlihat bahwa Khaddafi muda tidak mengenal situasi dunia Arab dan terutama para pemimpin Arab pada saat itu sehingga dia tidak mampu mewujudkan ide persatuan Arab. Hingga pada akhirnya, Khaddafi ‘menyerah’ dan beralih untuk mempersatukan Afrika sebagai saudaranya.

Gaya kepemimpinan situasional yang terlihat dalam diri Khaddafi juga adalah bagaimana di sekitar tahun 2000an, sikap Khaddafi mulai melunak kepada dunia barat. Di mana situasi dan kondisi dunia tak lagi inklusif dan tertutup. Libya perlahan mulai terbuka dimulai saat berakhirnya embargo Amerika kepada Libya, yang dituangkan dalam perjanjian-perjanjian yang diadakan oleh Libya dan Eropa juga membuka peluang kerjasama dengan Amerika Serikat.

Sikap lunak Khaddafi dalam menghadapi situasi dunia yang semakin maju dan berkembang juga terlihat, misalnya pada bulan April tahun 2007, untuk pertama kalinya sejak tahun 1969, para penulis dan professor di Universitas-universitas di Libya mengeluarkan permohonan untuk kebebasan pers. Pada tahun 2008 Khaddafi menunjukkan perubahan adanya keinginannya untuk mencoba menjadi lebih low profile dengan mengumumkan bahwa Libya tidak akan lagi menjadi negara tertutup dan bahwa suatu hari Libya tidak akan lagi membutuhkan dirinya sebagai pemimpin serta setiap rakyat Libya memiliki hak untuk menikmati kekayaan  Libya.

Keputusan Khaddafi menolak menyerahkan dua tersangka Libya ke aparat hukum Skotlandia dalam kasus Lockerbie melahirkan sanksi-sanksi PBB terhadap Libya dan proses perundingan yang panjang. Keputusan tersebut sebagai salah satu sikap tegas Khaddafi dalam dunia politik internasional di mana dia tidak mampu dipengaruhi oleh negara mana pun juga.  Maka, sebagai akibat dari sikap tegas dan keras Khaddafi terhadap negara Eropa khususnya Amerika, Libya menjadi negara yang disegani dan berulang kali menjadi sasaran embargo Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa.

Pengaruh Khaddafi terlalu dominan dalam setiap hal mengenai Libya. Hampir di semua sudut kota Libya terdapat potret Khaddafi. Dia bahkan seringkali menyatakan slogan “Tuhan, Moammar, Libya: cukup!”. Khaddafi juga telah melakukan pelanggaran yang sangat mendasar jika ditinjau dari poin-poin hak asasi manusia  yang harus dihargai secara universal, yaitu kebebasan menentukan keyakinannya  dan aktivitas pribadinya. Dalam contoh perilaku Khaddafi tersebut, jelas terlihat karakter gaya kepemimpinan militeristik yang dimiliki oleh Khaddafi.

Gaya kepemimpinannya militeristik yang dilakukan Khaddafi adalah bahwa meskipun pemerintahan Libya terbagi-bagi atas beberapa lembaga negara, namun semua lembaga negara tersebut tidak menunjukkan sisi independennya dan justru disetir dan diatur oleh Khaddafi.

Sikap dia yang membagi-bagikan kekayaan untuk rakyat juga mengundang pertanyaan dan keyakinan dunia internasional bahwa hal tersebut dilakukan Khaddafi untuk ‘membungkam’ suara rakyat Libya yang menginginkan kebebasan. Hal tersebut dilakukan Khaddafi agar memberi kesan bahwa apa yang dilakukan oleh Khaddafi tak lebih dari pengabdiannya untuk kebebasan rakyat dan negara Libya dari cengkeraman penjajah asing. Namun persepsi dia dan persepsi dunia mengenai arti kebebasan bertolak belakang.

Khaddafi  menuliskan dalam Buku Hijau, bahwa dalam upaya untuk menghindari potensi konflik suatu negara, maka negara harus berada pada  kondisi  “bersatu” dan “utuh”, yang dipandangnya bisa terancam oleh munculnya suku-suku dan  identitas sektarian. Berdasarkan pemikiran Muammar Al-Khaddafi dalam Green Book, dapat dilihat bahwa segala tindakan radikal yang dilakukannya, memang telah sejalan dengan apa yang dianggapnya sebagai upaya untuk menciptakan negara yang “bersatu”, tidak mengkehendaki adanya perbedaan apapun di  dalamnya dengan asumsi bahwa perbedaan mengantarkan pada disintegrasi dan kehancuran negara. Selain itu, penghapusan partai politik di Libya berlangsung sangat ekstrim. Pada Oktober tahun 1969, Khaddafi memberikan pidato  kenegaraan yang menyebutkan bahwa Libya harus berada pada kondisi “satu”, sehingga keberadaan partai politik, yang diyakini hanya memecah belah negara dalam berbagai lingkaran-lingkaran kepentingan, dan intrik untuk mencapainya, dihapuskan. Khaddafi seakan-akan memakai strategi berlindung dibalik pemikirannya mengenai kesetaraan dalam masyarakat.

Khaddafi pun membentuk kekuasaan yang disebut Al-Jamahiriyah, untuk melegitimasi tindakan otoriternya. Dengan struktur pemerintahan seperti itu, kebijakan yang keluar seakan-akan berasal dari proses demokrasi ala Libya, meskipun pada prakteknya seringkali merupakan hasil intervensi rezim Muammar Khaddafi.  Khaddafi bahkan pada era 1980-an tidak segan-segan “membunuh” para pihak yang bertentangan dengannya. Sebanyak 20 grup oposisi pemerintahan Khaddafi  di Libya, berada di luar negeri. Untuk membendung pihak oposisi, rezim Khaddafi memberlakukan kebijakan yang kontroversial berupa “penghapusan  lawan’ atau “policy of physical liquidation of opponents“. Selama tahun 1985, yang juga dikenal sebagai tahun gelombang kekerasan, sejumlah warga negara Libya di luar negeri dilaporkan terbunuh ataupun terluka serius. Selain itu banyak pula lawan politik Khaddafi yang berakhir tragis di penjara, ataupun menghilang  tanpa jejak. Kebijakan penghapusan lawan politik merupakan langkah yang sangat kontroversial dan menuai banyak kritikan terhadap Libya. Selama tahun 1984, terdapat 4 pembunuhan terhadap warga Negara Libya di luar negeri yang merupakan lawan politik Khaddafi, dan 120 eksekusi lainnya yangberlangsung di Libya.     

Karakteristik politik luar negeri Libya yang radikal pada masa kepemimpinan Khaddafi terlihat jelas dengan intensitas penggunaan pasukan dan terlibat aktif dalam mendukung gerakan oposisi di beberapa negara, baik yang bersifat revolusioner maupun gerakan pembebasan. Selama tiga dekade kepemimpinannya, Khaddafi telah terlibat dalam berbagai pergolakan politik melalui kebijakan politik luar negerinya.

Namun perubahan terjadi dalam kebijakan-kebijakan luar negeri yang diambil Khaddafi, salah satu alasannya karena banyaknya sanksi yang diterapkan oleh PBB dan dunia internasional terhadap aksi dukungan gerakan separatis yang dilakukan oleh Libya. Di tahun 1998 Khaddafi mengubah haluan ke penyatuan Afrika, salah satu caranya dengan berupaya membangun hubungan yang positif dengan negara-negara Afrika. Libya pun mengirimkan pasukan perdamaian ke negara-negara Afrika yang berkonflik.

Gaya-gaya kepemimpinan militeristik, terutama interaksinya dengan dunia internasional, mulai dia tinggalkan dan beralih menjadi negara pendamai. Di tahun 2003 Khaddafi menyatakan akan meninggalkan ‘terorisme’ dan menghentikan proyek senjata pemusnah massalnya. Dia juga membebaskan tahhanan internasional yang dipenjara di Libya selama bertahun-tahun. dan aksinya yang terakhir adalah upaya Khaddafi memperbaiki hubungannya dengan negara-negara barat.

3.      Libya Pada Masa Khaddafi

Setelah merebut kekuasaan dan kerajaan Libya dibubarkan, lalu Khaddafi membentuk Republik Sosialis Arab dengan nama resmi Republik Rakyat Sosialis Agung Jamahiriya Arab Libya. Bendera nasional pun diganti dari gabungan warna merah, hitam, dan hijau dengan lambang bintang dan bulan sabit di tengah-tengah, menjadi warna hijau polos.

Sistem pemerintahan Libya dirombak. Menurut kajian Library of Congress pada 1987 berjudul Government and Politics of Libya, Libya dipimpin dua pilar utama yang disebut dengan sektor. Salah satu pilar, yaitu “Sektor Revolusioner,” terdiri dari Khaddafi sebagai pemimpin Revolusi, Komite Revolusi, dan Dewan Komando Revolusi, yang beranggotakan 12 orang. Mereka inilah inti kekuasaan di Libya karena para komite dan dewan tidak dipilih, melainkan ditunjuk, serta tidak ada masa bakti. Pilar lain adalah “Sektor Jamahiriyah”, adalah Kongres Rakyat mewakili 1.500 wilayah dan 32 anggota Kongres Rakyat Sha’biyat. Mereka dilihat sebagai lembaga legislatif dan para anggotanya dipilih setiap empat tahun. Sejak 1972, rezim Khaddafi melarang partai politik dan media massa nasional pun dibelenggu agar tidak “menyesatkan” rakyat dengan pemberitaan kritis kepada pemerintah.

Bagi Khaddafi, ketidakadilan itu adalah minyak, sebagaimana bagi Nasser ketidakadilan itu adalah terusan Suez. Maka saat Khaddafi memimpin Libya, Khaddafi menuntut perundingan ulang kontrak-kontrak para pengusaha asing yang pada saat itu menguasai dan mengeksploitasi cadangan minyak Libya dan menentukan harga masing-masing sesuai negaranya. Khaddafi pun mengambil alih semua tanah-tanah pertanian dari tangan tuan-tuan tanah dan membagi-bagikannya kepada rakyat.

Dengan kebijakan nasionalisasi dan pemusatan, monopoli perusahaan asing berhasil dikendalikan. Cara tersebut membuat pemerintah memiliki saham terbesar dan Libya menjadi negara berkembang pertama yang berhasil mendapatkan bagian mayoritas dari pendapatan produksi minyak di wilayahnya. Keberhasilan Libya ini kemudian diikuti oleh negara-negara lain di wilayah Arab. Kemudian untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Libya, Khaddafi menerapkan sistem penghematan. Dia mengkampanyekan kepada masyarakat untuk tidak mengikuti kebiasaan masyarakat Arab yaitu kebiasaan konsumerisme berlebihan sebagai efek dari booming oil.

Selain itu, Khaddafi mensponsori pekerjaan umum yang besar seperti proyek pengadaan air buatan manusia yang terkenal bernama Klik Great Man-Made River yang memasok air segar ke negara gurun Libya. Ada juga Tripoli Spring yaitu memberikan pemahaman kepada warga Libya di pengasingan bahwa mereka bisa pulang ke tanah air tanpa diadili atau dipenjara.

Khaddafi menasionalisasi mayoritas ekonomi, memberikan pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan pelayanan-pelayanan publik lainnya kepada rakyatnya, dan Khaddafi menggunakan retorika anti-imperialis. Apa yang dianut oleh Khaddafi adalah sosialisme bernuansa Islam dan nasionalisme Arab, yakni sosialisme yang menyangkal perjuangan kelas. Ini sama seperti sosialismenya kaum sosial demokrat, yang beretorika sosialisme tetapi sangat takut dengan perjuangan kelas dan kerap menghentikan laju perjuangan buruh dengan berbagai cara. Dan terbukti, Khaddafi melarang serikat buruh independen dan pemogokan.

Partai politik dilarang pada tahun 1972, pembentukan LSM diperbolehkan namun harus sesuai dengan tujuan revolusi Khaddafi, dan perbincangan politik dengan orang asing adalah kejahatan dan diancam dengan tiga tahun penjara. Pada 1973, pemerintah Libya menetapkan bahwa pada har libur, sekolah-sekolah tetap masuk untuk mengajarkan prinsip politik Khaddafi. Pemerintah mengontrol media baik milik pemerintah maupun swasta dan bahasa asing dihapuskan dari kurikulum pendidikan.

Kepemimpinan Khaddafi selain menjadikan Libya sebagai negara pemrakarsa agenda bersatunya negara-negara Arab, tetapi juga mengantarkan Libya sebagai suatu negara yang berpengaruh dalam konstalasi politik melawan dominasi Amerika  Serikat,  khususnya  di  wilayah  Timur  Tengah  dan  Afrika. Khaddafi berhasil menanamkan pemikiran politik dan pemerintahan anti-Barat di dalam negaranya dengan menempuh kebijakan sebagai negara tertutup diawali dengan keputusan menutup pangkalan militer Amerika Serikat di Libya. Amerika Serikat kemudian memasukkan Libya dalam daftar negara yang mendukung terorisme internasional. Libya dikaitkan dengan beberapa aksi terorisme internasional, di antaranya pemboman sebuah diskotik pada tahun 1986 di Berlin, pemboman  pesawat  Perancis  pada  tahun  1989,  dan  yang  paling fenomenal adalah pemboman pesawat Pan Am Flight 103 di Lockerbie, Skotlandia.

Revolusi 2011 yang terjadi di Libya merupakan rangkaian pergolakan politik ‘Revolusi Melati’ yang terjadi di daratan Afrika Utara dan Timur Tengah. Kepemimpinan Khaddafi yang dianggap diktator, otoriter, dan tiran serta tindakan kasarnya dalam  meredam demonstrasi massa sudah memicu para pemimpin suku untuk berubah haluan dan memicu terjadinya pemberontakan rakyat Libya. Ditambah dengan gaya hidup anak-anak Khaddafi yang disinyalir juga memicu kecemburuan rakyat Libya yang mengalami krisis finansial.

Pada Maret 2011 setelah tentara Sekutu turut campur dalam urusan dalam negeri Libya, akhirnya Khaddafi tertangkap di tempat persembunyiannya dan Khaddafi tewas setelah salah satu pasukan pemberontak menembakkan sebuah peluru ke kepalanya.

4.      Libya Paska Kepemimpinan Khaddafi  

Setelah rezim Khaddafi runtuh, Libya memasuki babak baru dalam percaturan politik, ekonomi, dan semua aspek kehidupan. Namun Khaddafi meninggalkan negara yang “kosong” bagi para oposisi, dengan kondisi state  building without institutional infrastructure, di mana Libya tidak memiliki sama sekali partai oposisi dan tidak memiliki lembaga kontrol pemerintahan. Kondisi  ini diperparah dengan situasi demografis Libya yang sangat beragam dalam hal  etnis.

Mantan Menteri Kehakiman Libya Mustafa Abdel-Jalil membentuk pemerintahan sementara yang berbasis di Benghazi, Libya Timur. Pemerintahan transisi tersebut terdiri dari tokoh-tokoh sipil dan militer dan hanya berkuasa tak lebih dari delapan bulan untuk menyiapkan pemilihan yang adil agar rakyat Libya dapat memilih pemimpin mereka.

Pasukan-pasukan pasca Revolusi Libya menampakkan diri di panggung perpolitikan negara ini, yang berasal dari berbagai kelompok dan koalisi. 7 Juli 2012 yang lalu Libya sukses melakukan pemilihan umum setelah sekian lama Khaddafi berkuasa. Dari 200 anggota parlemen, hanya 80 yang dipilih dan 120 sisanya merupakan perwakilan kelompok dan suku. Parlemen ini memilih Perdana Menteri di antara dua kandidat yang ada yaitu Mahmoud Jibril dan Abu Shagur dan yang terpilih dengan selisih dua suara adalah Abu Shagur. Abu Shagur diminta untuk menyusun Kabinet hingga Oktober 2012 namun usulan kabinetnya selalu ditolak parlemen.

Kini setahun setelah berakhirnya pemberontakan, meski sudah bebas dari cengkeraman Khaddafi tetapi kondisi Libya masih belum stabil. Peraturan masih belum tegak dijalankan dan bahkan militan ternyata lebih berkuasa dari pada polisi dan tentara. Dengan banyaknya suku di Libya, situasi Libya saat ini masih rawan akan konflik antar suku dan perebutan kekuasaan meskipun pemilihan Perdana Menteri sudah dilakukan.

5.      Penutup

Kepemimpinanan yang efektif secara umum mempunyai karakteristik-karakteristik yang dapat dikelompokkan dan diidentifikasikan dan pada umumnya pembahasan tentang kepemimpinan yang efektif dan tidak efektif adalah dua kutub yang berbeda dan saling bertolak belakang. Kepemimpinan situasional merupakan kepemimpinan di mana pemimpin mencoba mengkombinasikan proses kepemimpinan dengan situasi dan kondisi yang ada. Bagaimana seorang pemimpin mampu memanfaatkan situasi dan kondisi di sekitarnya untuk menjadikan diri mereka maju dan berada di posisi puncak.

Pembahasan studi kasus mengambil contoh Muammar Al-Khaddafi, mantan pemimpin Libya yang menjabat 42 tahun, sebuah kepemimpinan terlama di dunia yang bukan dari kekuasaan monarki. Khaddafi memiliki aspek-aspek sebagai seorang pemimpin visioner namun kekuasaannya dijalankan dengan cara kepemimpinan yang otoriter dan militeristik. Performa Khaddafi muda tentu berbeda dengan Khaddafi tua. Khaddafi yang dicap sebagai pemimpin eksentrik dengan segala macam sikap dan sifatnya yang keras, sekalinya bersikap melunak ditambah dengan situasi perkembangan dunia Timur Tengah yang mengalami pergolakan, maka kepemimpinan Khaddafi berada di ujung tanduk sehingga Khaddafi pada akhirnya dapat dijatuhkan dengan tidak terhormat

Kepemimpinan situasional dimaksudkan bahwa seorang pemimpin  tersebut mampu menangkap kesempatan dan mengambil keutusan bijak dalam kondisi dan situasi yang berada di sekelilingnya. Khaddafi muda saat merebut kekuasaan Libya dari tangan Raja Idris I mampu menangkap momen situasi tersebut. Namun kekuatan Khaddafi muda yang mampu menangkap momen tersebut tidak lagi dapat dilakukan oleh Khaddafi yang beranjak renta. Kekuatannya semakin menurun tidak hanya dipengaruhi dari dalam internal kepribadian Khaddafi yang semakin melunak dan kondisi keluarganya yang menguasai kekayaan Libya, namun juga dipengaruhi dari faktor eksternal yakni situasi dan kondisi pergolakan Timur Tengah yang berimbas pada Libya.

Pada akhirnya, gaya kepemimpinan Khaddafi yang dianggap ideal olehnya tak cukup membuktikan melanggengkan kekuasaannya seumur hidupnya. Meski begitu, kepemimpinan Khaddafi patut dicatat dalam sejarah kepemimpinan dunia karena hanya Khaddafi yang bukan negara monarki yang mampu memimpin negara selama 42 tahun dan sempat menunjukkan taring Libya ke mata dunia sehingga bahkan dunia Eropa dan Amerika Serikat segan kepadanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s