Skizoanalisis Deleuze & Guattari [Lolita 2]


“Hasrat ada di mana-mana. Hasrat tidak pernah benar-benar ditaklukkan. kehadiran hasrat pada realitas sosial dan diri tidak bisa direpresi. Pengebirian terhadap hasrat hanya akan menyuburkan kelahiran hasrat dalam jumlah yang lebih banyak lagi.” (Giller Deleuze & Felix Guattari)

        Filsafat menganaktirikan dan menempatkan hasrat sebagai ‘anak yang hilang’ dengan menaklukan hasrat di bawah superioritas rasio. Rasio lalu menjadi penentu eksistensi manusia pada wilayah sosial dan menjadi ‘dewa’ sejarah rasionalisasi. Sementara, sikap indiferen filsafat terhadap hasrat berdampak pada definisi yang peyoratif terhadap hasrat itu sendiri sehingga hanya sebagai entitas “pelengkap” bagi kebutuhan rasio. Hasrat hanya “sekadar ada” sebagai bagian dari komposisi self, tetapi bukan penentu proses berpikir dan tindakan etis (cara bereksistensi) manusia. Sehingga baik filsafat maupun psikologi sama-sama mengeksplorasi hasrat dalam kerangka berpikir rasionalisasi. (Hartono, 2007: 33)

         Deleuze dan Guattari adalah filsuf dan psikolog yang mengikuti jalur nietzschean. Dalam kerangka Nietzschean, Deleuze dan Guattari mengadili rasio dengan menghadirkan kembali hasrat ke wacana diskursus. Penghadiran kembali hasrat sebenarnya adalah penegasan terhadap kehadiran hasrat dalam realitas yang selama berlangsungnya sejarah rasionalisasi diabaikan begitu saja. Bagi Deleuze dan Guattari, hasrat ada di mana-mana. Hal ini terlepas dari esensi hasrat sebagai ruh yang selalu bergerak melampaui ruang dan waktu, juga ruang waktu milik struktur-struktur sosial.

          Pada intinya, rasio dan hasrat adalah anak kandung dari rahim yang sama dan menjadi alter ego satu sama lain di wilayah sosial. Sehingga, hal ini berimplikasi pada dua konsekuensi. Pertama, cara pandang hasrat berubah dari das sollen (yang terjadi) menjadi das sein (yang sebenarnya) dan kedua, eksternalisasi atau pengejawantahan hasrat pada kesadaran atau wilayah sosial terjadi tanpa mediasi atau filterisasi, dengan kata lain subjek harus menjadi orang “gila” atau skizofrenik yang tak pernah merekam imaji sosial dalam dirinya. Selain itu, hasrat didefinisikan sebagai mesin produktif yang selalu menghasilkan aliran-aliran yang disebut sebagai aliran skizofrenik hasrat. Ciri skizofrenik atau ke-”ruh”-an hasrat memiliki beberapa konsekuensi logis:

               1. Pada level individu, hasrat skizofrenik membongkar segala identitas bentukan sosial yang opaque dalam diri dan menawarkan cara berada baru, yaitu membentuk subjek-subjek fasisme: tubuh-tubuh nomadik. Tubuh-tubuh nomadik ditandai dengan proses migrasi manusia tanpa henti dari eksistensi yang satu ke eksistensi yang lain. Dengan kata lain, tubuh nomadik adalah diri yang berada dalam posisi transisional dan selalu berproses.

        2. Pada level makro, hasrat skizofrenik mengandung potensi revolusioner dan siap menumbangkan segala tatanan sosial yang ada. Penghancuran tatanan sosial adalah cara untuk membebaskan gerakan hasrat skizofrenik. Sebab, hasrat skizofrenik pada dasarnya selalu mengeksternalisasikan diri tanpa mengenal kriteria pembatas sosial apapun.    

       Maka, tawaran mereka adalah menjalani hidup “abnormal” dari pandangan kenormalan sosial. 

deleuze_and_guattari_by_haruka

referensi buku: Skizoanalisis Deleuze+Guattari, Penulis: Agustinus Hartono, Penerbit Jalasutra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s