THE COMING ANARCHY : Sebuah ketidakpantasan Demokrasi


Robert  Kaplan mengambil studi evolusi sosial masa lalu melalui mata filsuf dan ahli teori sosial untuk menyaring pandangan dari dunia pasca-demokrasi Barat. Dalam bukunya yang berjudul “The Coming Anarchy”, pada dasarnya Kaplan berargumen bahwa implikasi politik dan kartografik dari postmodern, adalah terjadinya suatu peralihan negara bangsa yang akan digantikan oleh sebuah pola negara-kota dan regionalisme yang samar dan anarkis.

Bertentangan dengan pendapat umum bawa akhir Perang Dingin berarti dimulainya masa-masa damai, menurut Kaplan era Perang Dingin justru merupakan saat-saat di mana dunia paling mendekati kondisi utopis. Musuh baru kali ini adalah adanya kelebihan penduduk, kelangkaan sumber daya, dan perusakan lingkungan. Kaplan menggambarkan dunia yang terbelah oleh penyakit, kejahatan tak beralasan, migrasi, pengungsi, erosi meningkat dari negara-bangsa dan perbatasan internasional, dan sindikat narkoba internasional.

Dengan berakhirnya Perang Dingin, dunia malah sedang menjemput anarkisme itu sendiri. Kaplan kemudian menggunakan Afrika Barat yaitu Sierra Leone sebagai sampel negara yang cenderung anarkis dan bermasalah. Dalam Observasinya, demokrasi telah gagal menyelamatkan Sierra Leone, sebab bukan perpolitikan yang rasional yang muncul di benua itu, tetapi pertarungan antarsuku dan antaragama. Masalahnya, demokrasi mengandaikan partai politik yang menjadi interest aggregation. Sedangkan di Afrika hal itu tidak terjadi, sebab partai politik ternyata hanya berbasis agama atau kesukuan dan pertarungan antarpartai menjadi pertarungan antarsuku dan antaragama. Ketika dilaksanakan pemilu, maka yang terjadi adalah medan pertempuran yang berlumuran darah dan bukan area perebutan kekuasaan rasional.

Kaplan terang-terangan mengatakan, demokrasi tak akan berjalan di negara berkembang yang mempunyai partai politik yang berbasis suku atau agama. kedua hal itu tak mungkin diakomodasikan dalam sistem demokrasi yang pada dasarnya adalah sistem yang didasarkan atas toleransi. Kaplan kemudian memprediksi bahwa negara-negara lain akan mengikuti jejak Sierra Leone dan kondisi dunia pada umumnya akan didominasi oleh anarki sementara negara bangsa akan mengalami kehancuran dalam skala besar.

Sebagaimana yang tersirat dalam bukunya, Kaplan berusaha menunjukkan bahwa demokrasi hanya bersifat cenderung sementara dan bahwa demokrasi serta perdamaian yang berlebihan malah merupakan suatu hal yang tidak terlalu baik. Kaplan menolak utopianisme liberal dan terutama “demokrasi” sebagai respon yang tepat untuk kemunculan mega-krisis ini. Sebaliknya, Kaplan berpendapat mengenai apa yang disebutnya rezim “hybrid” yang akan kebanyakan otoriter, akan tetapi menawarkan kemakmuran dan keamanan bagi warganya. Memang, Kaplan mengatakan bahwa AS sendiri mungkin harus berkembang menjadi seperti sebuah rezim “hybrid”.

Kaplan menyatakan dakwaan yang kuat mengenai rencana Amerika untuk mengekspor demokrasi ke luar negeri untuk tempat-tempat yang jelas tidak dapat berhasil. Ia juga menganalisis konsekuensi dari mentalitas bencana besar baru dalam kebijakan luar negeri Amerika. Kaplan juga membayangkan masa depan yang mengerikan bagi negara maju, yakni dengan menyatakan bahwa kekacauan di negara lain pasti akan berdampak pada negara maju.

Kaplan menyatakan realitas konkret dari fenomena itu tak dapat dipungkiri: Untuk setiap enam puluh lima dolar yang diperoleh oleh negara-negara kaya, satu dolar yang diperoleh orang-orang miskin, dan kesenjangan itu semakin melebar.  Tidak hanya antara Utara dan Selatan, tetapi dalam negara dan wilayah itu sendiri, termasuk Amerika Serikat.

Hal ini sekaligus menunjukkan identitasnya sebagai seorang realis yang menganggap bahwa menerima batasan-batasan yang kita miliki serta mempercayai bahwa kita dapat melakukan suatu hal dengan lebih baik apabila kita mencoba seminimal mungkin adalah suatu hal yang wajar. Sekalipun begitu, saat ini, di mana sudah lebih dari satu setengah dekade sejak Kaplan memprediksi datangnya anarki, prediksi Kaplan tersebut tidak pernah benar-benar terbukti. Hingga saat ini masih belum ada negara yang mengalami kejatuhan dalam skala yang digambarkannya.

Dalam pernyataannya, Kaplan terlalu melebihkan relevansi peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi di Afrika Barat dengan perpolitikan dunia pada umumnya. Kaplan juga tidak terlalu memperhatikan peran dari pihak pemerintah lokal, yang sebagaimanapun buruknya dalam menjalankan pemerintahan seperti yang terjadi di Sierra Leone, masih memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan sosial masyarakatnya.

Meskipun Kaplan terlihat tampak terlalu berlebihan dalam memprediksi datangnya anarki di masa depan—sebab dia mengabaikan perkembangan atau pemberdayaan manusia di bumi—akan tetapi tulisannya ini dapat menjadi semacam gambaran besar peringatan bagi umat manusia akan kemungkinan munculnya masalah-masalah yang digambarkan Kaplan di masa depan. Dengan begitu, buku ini dapat menjadi alarm bagi umat manusia sehingga dapat mempersiapkan diri serta berusaha menurunkan tingkat musibah yang mungkin akan terjadi.

Shinta Felisiana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s