PENGABDIAN


Suatu ketika, ada acara reunian teman-teman semasa sekolah dulu. Tak semua memang yang hadir tapi dari beberapa teman tersebut, kita saling bertukar cerita dan mengenang masa sekolah.

Satu hal yang membuat aku tersadar (jika tidak dikatakan kegeeran), bahwa kami yang berkuliah terutama di luar kota dan di universitas negeri, sangat dibanggakan oleh almamater. Terlebih lagi jika jurusan atau program studi yang diambil sesuai dengan ‘jalur’ almamater sebelumnya yakni mencetak seorang pendidik. Pendidik = Guru?! Yupe, sodara-sodara..  sekolah saya dulu punya mata pelajaran khusus tentang Paedagogy dan ilmu didik-mendidik. So, banyak dari alumninya yang kemudian kuliah di jurusan yang tak jauh dari dunia pendidikan. Tapi tidak dengan saya dan my twin. Oke lah mungkin jurusan yang diambil adik saya (selain dia berhasil kuliah di PTN paling yahud se-Indonesia) masih rasional dan jelas: Arkeologi. Jurusan dan universitas yang seyogianya pernah ingin saya ambil tapi entah mengapa malah berpaling dan terdampar di sini. Sedangkan saya, mengambil jurusan SASTRA RUSIA. Timbul tanda tanya besar dan panjang di kepala para guru-guru saya itu… mengapa saya tahu (atau lebih tepatnya menduga) apa yang ada di pikiran mereka? Karena saya memerhatikan sikap, cara, dan obrolan beberapa guru tersebut ketika bertemu dengan saya dan teman-teman.

Mulanya saya tidak mengerti kenapa hanya saya saja yang ‘dicuekin’ (selain karena semasa sekolah dulu saya memang bandel.. hehe). Dan pemikiran saya bermuara pada hal itu, pilihan jurusan yang saya ambil. Pernah juga ketika awal masuk kuliah, saya ditanyai oleh salah satu sesepuh guru lantas saya jawab saya kuliah di Sastra Rusia Unpad. Lalu apa jawaban beliau? “Mau jadi komunis ya?!” tentu saja dengan nada pertanyaan bercanda lantas saya tanggapi komentar beliau dengan tersenyum. Dalam pikiran mereka [mungkin], ngapain di Sastra Rusia? Sastra Indonesia atau Inggris lebih jelas bisa dipakai sebagai pendidik. Kalau Rusia, emang mau ngajarin Bahasa Rusia? Ckckck… emang aneh ni anak (udah tahu tapi masih heran juga! Yang aneh siapa ya…? hehe). Memang kenapa dengan pilihan saya itu?

Klo mau jujur-jujuran, saya juga tidak tahu kenapa pada akhirnya memilih Sastra Rusia pada pilihan pertama padahal pilihan kedua saya Prodi Bimbingan dan Konseling di Malang. Toh tenyata Allah berkehendak lain, saya lulus pada pilihan pertama SPMB dan bagi saya, jalani saja meskipun bukan yang utama tapi itu sudah menjadi pilihan saya dan bagi saya sebagai awal batu loncatan menuju tujuan atau cita-cita saya yang terpenting. Yup, biarlah mereka berpendapat apa yang menurut mereka baik dan tidak baik. Selama bagi saya itu adalah yang terbaik (tentunya dengan berbagai pertimbangan) maka saya tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh orang lain.

Bukannya tidak ingin menjadi seorang pengajar di almamater tercinta. Tapi ada bentuk pengabdian lain yang bisa saya lakukan. Jika semua alumni menjadi guru dan mengajar di sekolah, lantas siapa yang akan jadi tukang bakso?  Maka, meskipun akan sangat menyenangkan menjadi seorang pengajar, saya lebih memilih bentuk pengabdian lain, misalnya, menjadi donatur yang secara finansial turut membantu menggerakkan sekolah atau mungkin bisa jadi saya jadi pengajar tapi tidak menjadi guru melainkan jadi dosen?! Hee.. Selain itu, saya punya cita-cita memiliki lembaga pendidikan berjenjang sendiri ataupun kalau tidak, mengembangkan sekolah ini yang tak sekadar bergerak di bidang pendidikan saja.

Almamater yang membesarkan saya selama enam tahun itu, tentu saja tak bisa saya lupakan begitu saja. Banyak peristiwa-peristiwa penting dan paling berpengaruh dalam perkembangan kejiwaan dan kehidupan saya di sana. Bagi saya, pengabdian adalah totalitas dalam mengerahkan atau menggerakkan hal yang kita miliki untuk bisa kita berikan pada apa yang kita cintai atau kita sayangi. Tak ada bentuk pengabdian yang lebih dominan, prestisius, atau terhormat melebihi pengabdian yang lain. Pengabdian dalam bentuk apapun mempunyai kadar yang sama dan (menurut saya) pahala yang sama. Hanya perihal di bidang mana kita mampu mengabdi.

Seperti halnya di tempat lain (dalam kasus saya), ketika dalam suatu organisasi, pengabdian kita adalah masuk ke dalam struktur dan bergerak demi tercapainya tujuan bersama. Maka perlahan seiring waktu berjalan, bentuk pengabdian kita akan berubah. Pada tahun ini, saya memang tak lagi sebagai pengurus BEM di Fasa Unpad tapi saya punya cara lain (selama saya masih di Jatinangor dan teknologi masih bisa menembus jarak dan waktu J) dalam mengabdi untuk Fakultas Sastra yakni bertukar pikiran dengan adik-adik angkatan dan membuka pilihan-pilihan dalam menemukan solusi terbaik untuk permasalahan yang sedang terjadi di dunia kampus.

Atau ketika berada di ‘tempat bermain’ saya, HMI. Mungkin bagi beberapa teman di sana merasakan kekecewaannya pada saya ketika saya memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan perjuangan setahun berikutnya selepas Lebaran ini. Bukan karena tak ingin atau merasa tak mampu, tapi dalam setiap episode kehidupan ini, saya memiliki tahapan-tahapan yang sudah saya rencanakan sebelumnya. Memang Allah Swt. yang Mahakuasa atas segala apa yang kita rencanakan, tapi saya ingin fokus pada rencana-rencana saya tersebut. Kejadian tahun lalu lebih dari cukup memberikan pelajaran pada saya ketika apa yang saya rencanakan sebelumnya telah saya langgar sendiri sehingga berefek yang kurang baik, bukan hanya bagi saya pribadi tapi bagi semua orang yang berhubungan. Maka cukuplah tahun lalu saja dan dengan tak mengurangi rasa kebersamaan dan rasa hormat saya, saya memutuskan untuk tak lagi terlibat langsung dalam segala kegiatan di HMI. Saya memilih bentuk lain dari sebuah pengabdian dan mudah-mudahan pengabdian saya jelas dan bermanfaat.

Kadang, ketika mendengar kata pengabdian, yang terlintas adalah suatu amanah yang cukup berat dan kita totalitas di dalamnya, lupakan yang lain! Tapi bagi saya, pengabdian adalah pengejewantahan yang konkrit yang dapat kita lakukan terhadap apa yang kita sayangi dan cintai dalam bentuk apapun dan dalam keadaan yang nyaman dan menyenangkan ketika kita menjalaninya. Mudah-mudahan apa yang saya sebut pengabdian dalam bentuk lain bisa saya wujudkan sesegera mungkin. Amin!

Purwakarta, 12 Agustus 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s