Makna Kebebasan Atas Nama Agama


Wanita Berkalung Sorban (WBS), itulah judul film terbaru Hanung Bramantyo berdasarkan novel karya Abidah El Khalieqy. Jalan cerita film ini sedikit berbeda dengan film-film bergenre sama seperti (mengikuti) Ayat-Ayat Cinta (AAC). Setelah membaca sinopsis ceritanya kemudian dibuktikan dengan menonton film tersebut, penulis pikir film ini patut diacungi jempol.

Film ini menceritakan tentang seorang santriwati yang merasa dikekang kebebasannya, merasa tidak diperlukan adil dan setara dengan para santriwan. Dia mempertanyakan segala hal yang berkaitan dengan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, terutama ketika masayarakat dan lingkungannya dengan begitu jelas membuat sekat yang jauh menimpang antara laki-laki dan perempuan.

Menarik memang menonton film ini ketika orang-orang berteriak lantang tentang kebebasan. Film ini sedikit banyaknya memberi cukup kepuasan bagi orang-orang yang juga bertanya-tanya seperti halnya Anisa, tokoh utama dalam film ini. Hanya sangat disayangkan, beberapa pertanyaan tersebut tidak cukup terjawab dengan bagus dan bahkan ada yang tidak terjawab sama sekali dalam rangkaian adegan yang ada. Anisa ingin menemukan kebenaran dan sejatinya sebuah arti kebebasan yang dia inginkan ketika bagi dirinya semua hal yang ada di pesantren terasa tidak adil, ketika seharusnya Islam menjadi sesuatu yang nyaman untuk dijalani. Dan ketika kejadian Anisa yang dipaksa menikah dan kemalangan terjadi pada dirinya, dia benar-benar jadi mempertanyakan bahwa benarkah apa yang selama ini digaungkan oleh pesantren tanpa dia sendiri keluar dari koridor Islam yang syar’i. Kemudian tokoh Chudori yang menjadi suami “luar biasa” bagi Anisa—yang jarang ditemukan di tengah masyarakat yang patriakhi—Dia sederhana, dia biasa saja, dia pun bisa ketakutan, tapi dia berusaha menjadi yang terbaik bagi istrinya. Lain halnya kemudian penulis mengajukan sebuah pertanyaan, adakah kemungkinan, dengan tayangnya film ini dan banyaknya orang awam yang menonton, akan muncul stigma bahwa pesantren itu sebuah lembaga doktrinasi yang mana setiap anak didiknya dilarang untuk mengapresiasikan diri? Serta, apakah memang ada seorang pimpinan pesantren (meskipun masih muda) yang berperilaku bejat seperti Samsudin?

Di satu sisi, film ini ingin menceritakan bahwa kemungkinan masih banyak pesantren-pesantren tradisional yang bersifat mendoktrin tanpa ada penjelasan yang lebih ilmiah (baca:logis) dan mengklaim bahwa laki-laki adalah segalanya dan yang paling tinggi derajatnya dibandingkan dengan perempuan. Di sisi lain, film ini juga menceritakan bahwa Islam itu universal dan sesama manusia adalah sederajat baik laki-laki maupun perempuan. Serta makna sebenarnya dari kebebasan itu sendiri. Dalam film ini saya rasa makna kebebasan yang dimaksud oleh Islam terwakili dengan cukup bagus. Bahwa Islam bukanlah agama yang mendoktrin, ekstrim, juga bukan agama yang ‘liar’ (bahasa yang digunakan oleh salah seorang kiai tua dalam film ini). Islam adalah Islam itu sendiri, yang bukan kehendak dari manusia yang punya kuasa—entah itu pesantren, pemerintah, majelis umat, atau organisasi lainnya—melainkan adalah kehendak Allah Swt. itu sendiri. Dan lewat perbuatan manusia itu sendiri, Dia yang memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang terbaik di antara hamba-hambaNya meskipun semua hambaNya itu pernah berbuat zina atau membunuh, misalkan. Maka Islam berada di tengah-tengah tapi bukan abu-abu di antara yang hitam maupun yang putih, karena, siapakah yang berhak memutuskan kebenaran? Tidak ada. Semua hanya klaim. Hanya Allah-lah yang berhak memutuskan. Karena kita hanya sekadar onggokan daging yang diberi ruh, yang dengan segala hormat disebut dengan manusia.

Tulisan ini hanya penilaian subjektif penulis sebagai penikmat film (yang jarang menonton film indonesia, apalagi sinetron Indonesia). Tentu saja ada kekurangannya karena penulis juga adalah manusia yang memiliki banyak kekurangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s