Karena Kita Bukan Superhero


            Ada hal yang menarik di dunia perfilman internasional (baca: Hollywood). Apakah itu? Yaitu booming film-film yang bergenre action dengan tokoh utama memiliki kemampuan di luar manusia biasanya alias superhero. Sebut saja Superman, Spiderman, Fantastic 4, Ghost Rider, National Treasure, dan yang lainnya. Bahkan serial TV kepunyaan Amrik sono mulai booming pula di Indonesia dengan genre yang sama: serial TV Heroes dan Supernatural. Gak cukup di situ, baru-baru ini Stan Lee sang sutradara terkenal Hollywood bikin reality show yang heboh, Who wants to be a superhero!.

            Kita sebagai penonton tentu saja merasa terhibur dengan adanya film-film yang berdasarkan imajinasi manusia tersebut—berlepas dari pesan yang dapat diambil dalam sebuah film—ditambah jika sang tokoh utama ganteng dan cantik bak bidadari-bidadara surga. Yup, kita diajak untuk sejenak menikmati kehebatan orang-orang yang memiliki kemampuan di luar batas manusia biasa.

            Tapi tunggu dulu, bukan tentang film-film tersebut yang ingin saya sampaikan. Akan tetapi, judul yang saya tulis di awal tulisan ini. Karena kita bukan superhero. Apa pasal?

            Akhir dari suatu hal adalah awal dari hal yang lain. Ketika kita masih kanak-kanak, kita tak sabar untuk segera memasuki dunia baru yang kita sebut remaja. Ketika kita sekolah, kita selalu cemas dengan hasil ujian; apakah lulus dengan nilai yang memuaskan atau harus mengulang ujian tahun depan? Apalagi untuk lulus, tiap tahun nilai kelulusan semakin meningkat. Belum lagi ketakutan tidak diterima di SMA favorit saat kita masih duduk di bangku SMP atau ketakutan tidak diterima di PTN dambaan (Unpad, misalnya J) ketika kita berada di kelas akhir SMA. Ataupun kekhawatiran lainnya seperti tidak mendapatkan pekerjaan bagi yang tidak meneruskan kuliah. Kekhawatiran dan ketakutan itu terus menemani kita. Bahkan setelah kuliah harus kerja di mana, kalau tidak dapat pekerjaan lantas bagaimana nantinya? Pas udah kerja, harus menikah dan meninggalkan keluarga besar. Punya keluarga kecil yang harmonis dan punya anak lantas ditinggalkan oleh anaknya karena anaknya menikah juga. Begitu seterusnya dan seterusnya. Dan, jujur saja, kita seringkali merasa cemas dengan semua kenyataan itu. Memang wajar untuk takut, karena kita bukan superhero. Kita adalah kita dengan segala kemanusiaan kita. Tapi klo begini jadinya maka akhir dari pendidikan kita jadi cuma nyisain segelintir ketakutan dan kekhawatiran. Lho kok jadi tentang pendidikan?!

            Disadari atau tidak, kita, para mahasiswa—sejak awal menginjak bangku pendidikan dasar—selalu diarahkan agar menjadi tenaga yang siap pakai di berbagai perusahaan. Jadi akuntan, PNS, atau yang lainnya. Bahkan yang disebut sebagai special skill profesi, seperti di Fakultas Sastra yang bisa dikatakan ahli dalam bidang bahasa dan sastra. Tapi, sadarkah kita, kita belum diasah untuk menjadi insan yang punya keterampilan hidup. Dan yang terpenting, kemampuan untuk survive dalam mengarungi kejamnya dunia (jiaahh..lebay!)

            Kita selalu berpikir, setelah lulus kuliah nanti, saya akan kerja dimana ya? Jarang sekali yang berpikir: usaha apa yang dapat saya jalankan?. Think out of the box Bro and Sist! Meski geliat enterpreneurship mulai digaungkan, tapi kesadaran para mahasiswa untuk jadi pengusaha—kata yang lebih keren dibanding pedagang—muda masih kurang dan itupun bisa dikatakan cenderung terlambat. Kenapa tidak diperkenalkan sejak masih di pendidikan dasar?! Ya, hal itu (lagi-lagi) wajar bagi Indonesia yang menerapkan sistem pengajaran bukan pendidikan. Apa pasalnya? Sebab pendidikan disebut dengan pendidikan karena hakikatnya pendidikan memadukan 3 unsur utama yang harus terpenuhi, yakni kognitif (pengetahuan), afektif (kemauan/keinginan), dan psikomotorik (sikap). Sedangkan selama ini yang kita tahu bahwa pendidikan di Indonesia menitikberatkan pada unsur kognitif saja sehingga dapat dibilang itu adalah sistem pengajaran, bukan sistem pendidikan. Hingga pada akhirnya yang tercipta adalah robot-robot manusia yang hanya peduli pada dirinya sendiri dan lebih memilih berkutat di zona kenyamanan, yang membuat bangsa Indonesia menjadi pelayan di negeri sendiri bahkan budaya konsumen semakin menjadi-jadi. Ironis memang, karena kita tak pernah tersadari.

            Sodara, punya perasaan cemas dan takut adalah hal yang wajar karena kita bukanlah Superhero yang mampu menanggung semua beban di pundaknya. Kita juga bukan salah satu dari malaikatNya—apalagi Tuhan. Tapi akan sangat tidak wajar jika ketakutan dan kekhawatiran tersebut terus-terusan kita pelihara. Yang ada kita bukannya maju, malah nyungsep gak tau ke mana. Ingat teman, kita adalah apa yang kita pikirkan dan kita inginkan. Jadi, buatlah dirimu merasa nyaman tanpa ada perasaan khawatir akan masa depan yang belum jelas. Bukan bermaksud untuk tidak dipikirkan, tetapi jangan sampai hal itu menjadi beban yang berat seolah-olah kita hidup hanya untuk memikirkan bagaimana kita akan hidup di masa depan, bukan bagaimana cara terbaik kita hidup di masa kini dan masa depan juga bermanfaat bagi orang lain.

            So, life must go on!  Kitalah yang menentukan nasib kita sendiri, bukan orang lain atau sistem pendidikan yang telah berperan serta membentuk kita. Nah, apa yang saya sampaikan bukan berarti saya yang paling tahu atau sok tahu. Bukan seperti itu. Semoga ini pun menjadi bahan pembelajaran dan introspeksi bagi saya yang juga masih belajar sama seperti teman-teman. Long Life Education, nikmatilah setiap pengalaman dan pembelajaran hidup. Mari kita sama-sama belajar dan membuat hidup lebih ‘hidup’, karena di dunia ini, kita tak hanya sekadar hidup. Semangat!

Shinta Felisiana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s