Perjalanan Bulan Purnama


Dengan sepatu gunung, celana jeans lusuh, kaos hitam panjang dan jaket, aku bersama seorang sahabat siap memulai perjalanan panjang dan mengasyikkan sejauh belasan kilometer untuk menikmati pemandangan dan suasana di sepanjang Rancaekek menuju Garut.

Ada kalanya kita merasa suntuk dan lelah dalam aktivitas keseharian. Terkadang kita tak pernah menyadari bahwa ada banyak hal sederhana yang telah lewat dan tak sempat kita cermati. Begitu pula dengan segala sesuatu di sekitar kita yang kadakala kita acuhkan dan kita sepelekan.

Siang hari sekira pukul dua siang di mana matahari sedang bersinar terik, aku bersama sahabatku memulai perjalanan yang kukira penuh makna. Perjalanan dengan langkah kaki yang mantap dan tanpa lelah menuju tujuan. Ya, kami benar-benar berjalan kaki tanpa kendaraan untuk kami tumpangi. Menemani perjalanan tersebut, seringkali kami berbincang tentang segala hal dari perbincangan ringan yang seringkali disertai candaan hingga perdebatan panjang dengan memasang muka yang masam. Tapi tak jarang pula sepanjang waktu itu kami habiskan dengan saling diam membisu.

Di sepanjang perjalanan, aku melihat begitu banyaknya perbedaan dan strata sosial. Seperti yang seringkali kita lihat di sepanjang rel kereta api listrik dari Bogor menuju Jakarta. Bangunan sebelah kiri lebih terkesan rapi dan mewah dibandingkan sisi sebelah kanan. Apakah hal tersebut tidak menimbulkan kesenjangan bagi mereka?!

Tiba saatnya melewati ‘perkampungan pabrik’. Ah ya, sekarang jam pulang kerja di mana hal tersebut terlihat dengan keluarnya ribuan orang dari gerbang salah satu pabrik. Mayoritas pekerja itu perempuan dengan beragam usia. Mereka jadi terlihat seperti segerombolan semut yang membubarkan diri. Aku jadi berpikir, bagaimana para perempuan itu ketika berada di rumah? Adakah mereka berpikir untuk melakukan pekerjaan alternatif lain seperti usaha di rumah saja daripada terperangkap menjadi pekerja paksa seperti itu? Terpaksa karena keadaan perekonomian keluarga..

Menuju pertengahan tujuan, di sisi kiri kanan jalan terdapat banyak lahan kosong yang membuat kami berpikir, kenapa seperti itu?! Pemandangan sore yang sangat indah untuk dinikmati sembari melihat dan memerhatikan orang-orang yang melakukan kegiatan berbeda-beda. Menjelang malam perjalanan belum sampai ke tujuan. Kita berhenti sejenak di sebuah lapangan luas dengan pemandangan langit malam yang dihiasi bulan purnama.

Di tempat itulah akhir perjalanan. Kami putuskan untuk menyelesaikan di tempat ini karena waktu telah beranjak tengah malam. Kelelahan yang sangat dan kepuasan untuk memperkaya jiwa membuat kami memutuskan untuk mengakhiri perjalanan ini. Sejenak kami melihat bulan dan berkontemplasi tentang setiap slide peristiwa yang telah terjadi selama perjalanan tadi.

“Nobody knows just why we’re here. Could it be fate or random circumstance. At the right place at the right time, two roads intertwine. And if the the universe conspired to meld our lives to make us fuel & fire. Then know where ever you will be, so too shall I be.”  [Rivermaya—you’ll be safe here]

Mari kita tutup sketsa perjalanan ini dengan sebuah syair..

“Kita mencela zaman, sedang cela ada pada kita. Kita hina zaman yang tak berdosa. Andai zaman bisa berbicara, ia akan mencaci kita. Serigala tak makan serigala, sedang kita memakan sesama secara nyata..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s