Kesadaran itu membingungkan


Kesadaran itu membingungkan.

Tadi siang aku membaca tentang tulisan Fahd Djibran berjudul ‘Nowhere’. Dan ya, tanpa kita sadari kita menjadi manusia-manusia robot yang lupa kenapa kita hidup, bekerja, dan berkeluarga—setidaknya itu yang saya pahami.

Bagi saya, kesadaran itu begitu membingungkan. Karena ketika kita menyadari segala sesuatu dengan detail, apa saja yang telah kita lakukan, maksud dan tujuan di balik semua perbuatan, maka kita akan mendapati bahwa tidak ada apa pun yang layak diperjuangkan kecuali untuk kehidupan abadi di dimensi lain. Kehidupan setelah kematian—bagi orang yang meyakininya.

So, what’s the next? Yang ingin saya katakanlah adalah bahwa ketika kita menyadari bahwa ada hal-hal yang seharusnya tidak kita lakukan, tapi tetap kita lakukan sebab formalitas baku yang terjadi di masyarakat, maka kemudian kita menjadi resah dan bertanya-tanya. Apakah semua yang saya lakukan sudah benar? Apakah semua keinginan saya terpenuhi? Bagaimana jika saya melakukan sesuatu yang sejak lama ingin saya lakukan tapi tak juga dilakukan karena terkendala dengan formalitas dan penilaian masyarakat?! Aha, norma!

Anggaplah sekarang saya sedang jatuh cinta saat ini. Untuk ke sekian kali saya menyadari bahwa saya selalu menyukai satu orang di setiap saya berpindah tempat. Termasuk di tempat yang sekarang. 1. Saya menyadari sejak dulu bahwa saya gampang menyukai orang, 2. Saya juga menyadari bahwa ini hanya perasaan sesaat yang suatu saat pasti akan menghilang, 3. Orang yang saya sukai adalah orang yang sudah mempunyai pacar.

Lantas apa yang saya lakukan? Apakah berpura-pura bahwa saya tidak cinta orang tersebut dan bersikap sewajarnya ataukah harus saya tunjukkan? Saya menyadari bahwa ketika saya sadar bahwa saya mempunyai perasaan sepeti ini, maka kesadaran seperti inilah yang membingungkan. Apakah akan menjadi baik ketika orang-orang menyadari keberadaan dan perasaan mereka? Ataukah hidup selayaknya manusia, buang jauh perasaan itu sebab itu hanya halusinasi dan ‘dosa’?!

Lagi-lagi yang membingungkan adalah, apakah akan menerima dan tetap menikmati ‘perasaan’ ini kepadanya hingga suatu saat perasaan itu habis tak bersisa, ataukah mendoktrin diri sendiri bahwa hal itu adalah salah dan perlu dibenahi moralitas diri?

jelas ini hanya masalah persepsi saya belaka. yang lagi-lagi berupa coretan kecil sekadar meluapkan keresahan diri. galau melanda.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s