Vita Brevis


        Tak perlu ditanggapi apalagi dibalas. Hanya sekadar ocehan tak tentu yang menyiratkan kegelisahan diri tentang apa yang kini terjadi. Kuharap, kamu menjadi pembaca yang baik dengan cemilan berada di sisimu.

          Bagaimana jadinya jika sejak awal aku tak pernah mengenal kalian karena aku tak berada di bumi Sastra melainkan di tanah Jawa nun jauh di sana? Bagaimana jadinya jika aku tak mengenyam ilmu agama tapi mengejar dunia? Bagaimana jadinya jika aku tak pernah tertarik dengan dunia organisasi dan aktivitas membosankan menjadi satu-satunya pekerjaan? Bagaimana jadinya jika aku tak pernah berjumpa dengan orang-orang yang turut membentukku? Bagaimana jadinya? Bagaimana? Jadinya?

           Bagaimana jadinya jika aku berasal dari keluarga bangsawan? Bagaimana jadinya jika aku lahir dari rumah sederhana nan bahagia? Bagaimana jadinya jika aku besar dengan hanya seorang ayah atau ibu yang bergembira? Bagaimana jadinya jika aku dimanja dan dipuja? Bagaimana jadinya jika aku tercipta dengan kekurangan yang luar biasa? Bagaimana jadinya jika aku terlahir dengan agama yang berbeda? Bagaimana jika aku tak pernah hadir ke dunia? Bagaimana? Jadinya?

              Bagaimana jika aku hidup 1000 tahun lebih lama? Bagaimana jika aku terlahir 1000 tahun lalu dan kini yang tersisa hanya fosil manusia aneh sejagat raya? Bagaimana jika aku lahir 500 tahun mendatang dengan bumi yang telah binasa? Bagaimana jika aku sezaman dengan Sang Nabi dan Para Sahabat? Bagaimana jika aku hidup di masa revolusi industri atau Perang Dunia I dan Perang Dunia II? Bagaimana jika aku menghirup aroma angkasa dan berkembang layaknya amuba karena teknologi abad 22? Bagaimana jadinya?

    Bagaimana bumi tercipta? Apakah hanya untuk manusia semata? Bagaimana jika benar adanya bumi sebagai pusat dari jagat semesta? Bagaimana jadinya jika aku adalah Tuhan? Bagaimana bisa manusia dapat berbahagia setelah segala penderitaan yang dia rasakan? Bagaimana mungkin orang lain memahami apa yang aku inginkan dan aku harapkan jika selama ini aku hanya bisa tertawa atau tersenyum saja? Bagaimana caranya aku menginginkan orang berbahagia tanpa aku sendiri menderita?

      Kenapa aku tak pernah mengerti? Apakah aku yang tak pernah mau mengerti? Ketika cinta datang aku hanya terdiam, ketika benci terlihat aku hanya bisa memandang. Berkali-kali mereka hadir tapi aku tak pernah peduli….

        Kau tahu, di tanah ini aku ditemukan oleh sosok yang sempat aku abaikan. Meski begitu, dia berhasil menangkapku dengan ketetapannya. Tapi masih bolehkah aku mengharapkannya? Ketika semuanya telah terlambat untuk memulai kembali, dia sudah pergi, dengan serpihan hati yang telah kusakiti…

Vita Brevis, kawan. Hidup ini singkat….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s