Untuk Ksatria


Ksatria langitku…

Impian adalah satu-satunya alasan yang membuatku masih bertahan. Dan aku menginginkan impian tersebut diraih bersama denganmu, calon suamiku..

Memang apa yang kita mimpikan sangat sempurna sehingga terkadang aku berpikir, realistiskah aku dengan semua impianku itu? Sanggupkah aku mewujudkan semua impian yang ada?

Ksatria, aku tak ingin berharap lebih akan terwujudnya semua impian-impianku. Namun yang pasti,  satu impian yang sangat ingin aku wujudkan adalah;

Menjadi seorang ibu sekaligus istri terbaik di mata keluarga dan Tuhan…

Dan mungkinkah hal itu dapat aku wujudkan tanpa kehadiran dirimu?!

Ksatriaku, aku sadari bahwa ada hal-hal yang menjadi keterbatasan seorang perempuan jika dibandingkan dengan laki-laki. Itulah mengapa Tuhan menciptakan perempuan dan laki-laki berbeda agar saling melengkapi. Dan perbedaan itu bukanlah sesuatu yang menjadi halangan untuk hidup bersama. Pun ketika adanya perbedaan atau apapun namanya karena yang dibutuhkan dalam membangun sebuah hubungan adalah saling memahami dan mempercayai. Dan aku ingin belajar tentang hal itu bersamamu. karena mencintai itu pun memberi. karena mencintai itu bukan sekadar “karena”, tapi juga “walaupun”…

Cintai aku, jika itu membuatmu lebih baik tentang segalanya dan membuatmu lebih mencintaiNya. Dan jauhilah diriku jika sekiranya karena mencintaiku kau akan lebih buruk. Aku tak ingin cinta yang membutakan dan mematikan. aku tak ingin cinta yang menutup mata, telinga, dan hati kita pada segala sesuatu hal.

Aku ingin, kita bersama mewujudkan impian kita. Impian kamu dan aku. Bersama-sama merasakan betapa melelahkan sekaligus menyenangkannya sebuah proses menuju kesuksesan. Aku ingin melihat air matamu mengalir ketika kebahagiaan memenuhi diri atau melihat wajahmu yang merah menahan amarah dan kekecewaan karena kegagalan. Dan aku berada di sana menemanimu. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kamu miliki…

Ksatria Langit, kau tahu, aku ingin menjelajah bumi bersama denganmu. Kita akan melihat anak-anak sungai yang mengalir dari balik pegunungan, terbang bebas ke angkasa yang luas, memerhatikan masyarakat yang begitu harmonis, menari bersama diiringi lagu yang syahdu, bermain layang-layang, mengendaraiku kuda dan berlari di padang bunga yang harum serta melihat langit di bawah pohon rindang di tengah hamparan padang rumput yang indah dan sejuk. Dan aku ingin melakukan semua itu bersamamu..

Jikalah aku melangkah,

… semoga itu bukan karena “ketakutan”

… semoga itu bukan karena “kesombongan”

… semoga itu bukan karena keberanian

… semoga itu bukan karena menharapkan pandangan orang

… semoga itu bukan karena rasa kasihan.

Jikalah aku melangkah,

… Semoga itu karena kerinduan

… Semoga itu karena kebenaran

… Semoga itu karena cinta

… Semoga itu karena hakikat

… Semoga itu karena …. Tuhan.

Warung Sastra, 12 Juni 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s