Tentang Lelaki yang Bernama Kamu


                 Buat Zhea.

            Segala penghambaan hanya kepadaNya, dan segala karunia tercurah kepada para hambaNya yang bersabar dan bertakwa.

             Kali terakhir kita berjumpa adalah saat hari baru di tahun masehi ini. Kala itu kita—aku, kamu, dan dia—‘merayakan’ tahun baru dengan menonton semalam suntuk, walau pada akhirnya kamu yang disusul dia tumbang duluan tak kuat menahan kantuk, tertidur pulas dan hanya aku sendiri yang bertahan hingga pukul lima pagi kurang. Itu pun sebenarnya demi menyelesaikan film yang tinggal beberapa menit lagi.

            Aku rindu kamu. Walaupun egoku mengatakan bahwa aku tidak apa-apa, tapi sebenarnya aku sedang tidak baik-baik saja. Sejenak aku merasa kehilangan arah, setelah kepergianmu. But life must go on…

            Banyak hal sebenarnya yang ingin aku ungkapkan. Namun tampaknya hal itu sudah tidak berguna lagi sekarang. Yeah, aku hanya mampu menyimpan baik-baik segala resah dan perasaanku. Aku yakin kamu juga begitu.

          Aneh. Aku belum memahami betul perasaan apa yang sebenarnya kualami ini. Aku belum menyakini bahwa rasa yang kumiliki untuk kamu itu cinta. Karena itulah aku tak pernah sekali pun mengatakan cinta. Tapi perasaan resah, penasaran, dan egoisme yang memuncak kualami dengan kamu. Inilah perasaan yang kedua kalinya [yang pernah] kurasakan, namun lebih liar dan lebih bebas…

            Ketika terakhir kali mendengar kamu bertilawah, kamu mengingatkanku akan satu sosok yang pertama kali mengisi relung hati. Suaranya sangat indah, hingga semua orang jatuh cinta. Meski kamu tak seperti dia, namun aku suka. Tapi aku sedih, karena jarang sekali mendengar kamu bertilawah, dan sekalinya mendengar kamu bertilawah cukup lama, itu adalah kali terakhir aku mendengarnya.

           Kini aku sudah merasa lebih baik. Kegiatan seabrek selama 2 minggu kemarin cukup membuatku melupakan segala yang pernah kita alami bersama—walaupun sebentar namun sungguh indah.

          Aku masih terus mencari makna cinta yang selalu tak rasional—tetapi otakku selalu memerintahkanku untuk be-rasional ria, hal yang hampir tak mungkin dalam pencarian makna cinta. Meskipun selalu berakhir dengan kekecewaan dan kesakitan. Namun pasti, aku yakin aku akan menemukan apa yang selama ini kucari, tentang cinta (tapi sampai kapan?). Hingga saatnya itu tiba, kuharap aku benar-benar bisa memahami mengapa kita bisa begini. I have to find the answer…

          Sekarang aku lebih bebas mengekspresikan diriku. Aku merasa mengalami banyak loncatan-loncatan pemikiran dan perubahan (mudah-mudahan bukan ke arah yang lebih buruk).

                Semoga lebih baik.

See you at the right time and the right place…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s