no need a perfect man for a perfect life!


Entahlah. Apakah aku benar-benar telah jatuh cinta padanya? Karena ini kali kedua aku merasakan perasaan yang berbeda. Mungkin aku harus mengakui bahwa aku benar-benar telah jatuh cinta. Aku tidak bisa melupakan dia begitu saja ketika hubungan kami telah berakhir. Atau mungkin karena aku telah menyukainya dengan diam-diam jauh sebelum dia menyatakan cintanya? Atau hanya karena ketakutanku akan kesendirian? Entahlah.

            Yeah, aku hanya ingin membangun impian bersama-sama dengannya, berawal dari nol sehingga kita bisa menikmati indahnya perjuangan bersama. Karena kami memiliki mimpi yang sama—dan itulah salah satu pertimbangan kenapa kemudian aku menerima dia—mewujudkan mimpi bersama-sama…

            Kenapa aku begitu menyukainya? Entahlah. Aku merasa ‘klik’ aja dengannya. Sesuatu di dalam hati aku mengatakan, he is the right man. Mungkin juga karena dia pintar, meskipun dia memang orang yang sangat perfeksionis dan keras kepala, terkadang juga sikap dia dan nada bicaranya tidak menunjukkan kesopanan. Tapi, no need a perfect man for a perfect life! Semua orang mempunyai kelemahan dan kekurangan. Aku merasa sudah dapat menerima semua kekurangan dia. Tapi apakah dia telah menerimaku apa adanya? Entahlah.

            Yang pasti, saat ini aku masih mencintainya, sama besarnya saat aku masih mempunyai hubungan dengannya. Tapi hubungan kami tak berjalan mulus, hanya bertahan tak lebih dari 3 bulan saja. Apa pasal? Karena kami tidak saling terbuka. Aku berusaha mengomunikasikan semua hal, tapi menurut saya, feedback dari dia hampir nol. Entah mungkin karena dia merasa begitu berdosa karena melakukan sebuah hubungan yang belum pernah dia lakukan sebelumnya atau apa, entahlah. Tapi yang pasti, saya masih tidak meyakini bahwa apa yang telah kami lakukan adalah sebuah hubungan. Karena dari awal memang tidak ada kejelasan mau diarahkan kemana hubungan ini. Ya, ini mungkin salah saya yang merasa ketakutan untuk sendirian.

            Ironis. Tahun baruan kemarin aku nonton bersama dengan dirinya dan dengan satu temanku yang lain. Meski masih merasakan perasaan yang sama, tapi sayangnya aku tidak mungkin memperlakukan dia layaknya seseorang yang masih istimewa. Segala sesuatunya harus berubah, meski perasaan tersebut masih tersimpan lama dan terasa sakit. Aku harus bertahan! Meski saat ini dia masih yang terbaik di mataku, aku harus merelakan dia pergi dan membiasakan diriku tanpa memikirkan dan merasakan kehadirannya.

            Aku pikir, ini mungkin karma atas apa yang telah aku lakukan sebelumnya. Dulu-dulu aku yang memutuskan sebuah hubungan, sekarang aku yang diputusin. Hahaha.. yeah, walaupun memang sedari awal aku merasakan ketidaknyamanan ini. Karena aku pikir, ketika pada akhirnya aku menerima dia, dia akan menjadi the last man. Orang terakhir yang aku cintai sehingga kebiasaan jelekku yang gampang suka ke cowok bisa berakhir. Meski kebiasaan itu tidak serta merta terkikis, tetapi setidaknya aku sudah memantapkan hati untuk dia. Rasa yang aku miliki untuk dia sempat dalam dan lama. Kami merasa memiliki hati yang menyatu dan gelombang frekuensi yang sama. Hingga pada akhirnya, ketika semua berakhir, aku tak serta merta mudah melupakan dirinya begitu saja seperti kepada yg lainnya. Bagaimanapun, aku pernah punya kisah dengannya—meski sebentar—and i still love him, always love him, meski dalam bentuk yang berbeda. entah sampai kapan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s