Ksatria Langit


          Aku mencintai laki-laki itu. Laki-laki yang mampu membuatku diam terpesona, karena keindahannya.

            Aku mencintai laki-laki itu. Namun rasanya sungguh naif jika kukatakan ini adalah sebuah cinta. Karena, kurasa, aku hanya mengagumi ‘keindahannya’. Mahkluk terindah yang pernah kutemui.

            Aku mencintai laki-laki itu. Laki-laki yang pernah berkata bahwa dia pernah melakukan perjalanan-perjalanan yang ‘menakjubkan’; mengamati orang-orang yang berlalu lalang di gerbong kereta, tidur dengan para pengamen dan gelandangan di pinggiran toko Yogyakarta, serta memandangi langit dan lalu lintas kota sambil duduk di trotoar.

            Aku mencintai laki-laki itu. Laki-laki pendiam yang berpostur tinggi dan kurus kering. Dengan baju lusuh, celana panjang belel, dan tas ransel jadul dia hadapi dunia. Aku suka ketika aku membayangkan laki-laki itu berdiri di tepi bukit, menatap langit biru yang cerah dan angin menyapa lembut rambut lurusnya yang menutupi wajah. Suka sekali..

            Aku mencintai laki-laki itu. Kami saling diam menghadap langit malam. Laki-laki itu bersandar pada sebuah dinding dengan salah satu kaki ditekuknya. Sedang salah satu tangannya membelai lembut rambutku yang dibiarkan tergerai. Aku menikmati sandaran bahunya yang kokoh.

            Aku mencintai laki-laki itu. Kami memiliki sebuah rumah mungil nan indah di sebuah pulau yang kecil. Tidak terlampau kecil untuk kami berdua dan tak juga terlalu besar untuk sebuah komunitas. Rumah mungil bercat putih yang menghadap laut, dengan dua petak pekarangan di sekeliling rumah dan lima petak ladang yang kami tanami bermacam-macam sayuran dan buah-buahan. Serta tentu saja bunga-bungaan dan pohon yang rindang menghiasi halaman rumah kami, di dua petak pekarangan itu. Setiap pagi burung-burung bernyanyi untuk kami dan setiap senja kami menikmati matahari terbenam sembari minum teh bersama di beranda rumah. Kami jalani itu semua dengan keheningan dan keindahan alam.

            Aku mencintai laki-laki itu. Kami sering berjalan-jalan di pinggir pantai di pagi hari atau ketika senja datang. angin laut menerpa wajah kami dan menggoyangkan tangan kami yang saling bertautan. Terkadang kami bermain laiknya anak kecil dan tak jarang pula saling diam menatap. Itu cara kami saling mencintai, itulah bahasa cinta kami.

            Aku mencintai laki-laki itu. Dengan tubuhnya yang tak tegap, laki-laki itu merengkuhku, mendekapku, dan melindungiku dari bahaya. Laki-laki itu tak ingin aku terluka. Karena baginya, diriku adalah seseorang yang layak untuk diperjuangkan. Laki-laki itu mencintaiku.

            Dia, laki-laki yang kucintai itu, ‘Ksatria Langit’. Aku mencintai laki-laki itu melebihi apapun di dunia ini. Dan kukira, jika aku tak bersamanya, maka aku akan “mati”…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s