Malaikat yang berwajah (seperti) Tuhan


Tuhan pernah bertanya lewat malaikat yang diutus untuk menemuiku; Layakkah kamu mati?

Well, seketika itu aku terdiam. Bukan karena terkesima oleh sayap bercahaya sang malaikat dan segala kegantengan yang ada padanya, atau keberanian Tuhan mengutus salah satu malaikat terbaiknya kepadaku [setidaknya dari penampilan dia yang terlihat elegan berwibawa—tak seperti diriku yang apa adanya ini], ataupun pertanyaan Tuhan kepadaku yang bermakna ganda tersebut.

Melainkan tentang diriku. Eksistensi diriku. Ya, dengan hadirnya malaikat di hadapanku itu, aku menyadari bahwa diriku benar-benar ada. Nyata. dan aku benar-benar terdiam karena Tuhan membuktikan itu melalui utusanNya. Senyata itukah diriku?

Kukira, aku hanya bayangan dari gambaran orang-orang yang berada di sekelilingku. Ketika aku mengatakan sebuah meja adalah meja sebagaimana adanya dirinya yang bagiku berupa bentuk kotak berkaki empat, namun bagi diri orang lain meja adalah meja sebagaimana adanya dirinya yang berupa wadah bulat berlubang. Nah, apakah realitas yang sebenarnya di sini? Menurut pendapat orang, kebenaran adalah kesesuaian antara harapan dan fakta atau idea dengan realitas. Maka, dalam hal ini, siapakah yang dianggap benar, kenyataanku tentang meja ataukah kenyataan orang lain itu tentang meja?

Jadi, seberapa nyata diriku sebenarnya? Aku yang nyata ataukah orang lain yang nyata? atau tidak keduanya atau memang nyata keduanya?

Lalu malaikat tahu kebingunganku dan dengan tangannya yang putih mulus halus dan bersih itu menggamit tanganku yang hitam kotor dan kasar. Seketika kehangatan menjalar ke sekujur tubuhku dan malaikat itu tersenyum kepadaku. Oohhh!! Tahukah kau bagaimana malaikat itu tersenyum? Tahukah kau bahwa dia memberikanku sebuah senyuman yang luar biasa indah yang tak pernah diberikan orang lain kepadaku? Senyum yang begitu memesona..

Maka dibawalah aku terbang bersamanya. Menembus awan-awan yang bergelayutan di atas langit biru dan serasa selimut lembut ketika aku mengenainya. Angin langit senantiasa menerpa wajahku seperti knalpot mobil yang berseliweran di jalanan kota, tapi berbeda dengan knalpot, angin ini begitu sejuk, lembut, dan segar sehingga ingin rasanya aku menghirupnya dalam-dalam dan tak mau melepaskannya.

Lalu malaikat itu mengisyaratkanku untuk menatap apa yang ada di bawah. Bumi! Dataran dan lautan yang begitu luas terhampar, gedung-gedung tinggi seolah-olah hanya titik-titik kecil di antara titik-titik yang lebih kecil lagi.

Dan kenyataan adalah diriku yang sebenarnya. Bahwa pikiran-pikiran yang kupikirkan adalah kenyataan bagi dirinya sendiri, bagi diriku.

Tiba-tiba aku terjaga di sebuah gedung tinggi menghadap matahari terbenam. Aku tertidur.. kenapa? Kenapa aku tak bisa menikmati perjumpaanku dengan malaikat itu dan harus berakhir di sini, di antara tembok-tembok besi yang dingin dan kelu. Betapa kemewahan tak mampu menggantikan apa yang kuinginkan dan kumimpikan. Aku ingin mimpiku, aku ingin khayalku, aku ingin pikiranku! Maka persetan dengan orang lain dan pikirannya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s