Kisah Ksatria Langit dan Sang Putri (Part 1)


Dan dimulailah kisah tentang tentang dia dan Ksatria Langit…
Ketika itu, dia hanya ingin berlari dari segala keramaian yang ada di bumi. Dari segala yang membuat perih di hati.

Dan lalu apa yg kau bayangkan tentang sosok sang ksatria? Sesungguhnya ia tidaklah gagah tampan dan berkuda. Ia hanya sesosok manusia sebagaimana dirinya; tinggi kurus dengan wajah tirus nan teduh dan pemikiran tajam. Kesukaannya hanya melihat langit dan bumi dari atas bukit bersama dengan tas ransel lusuhnya dan kaus belelnya. Ia tegak menantang dunia.

Karena dia adalah Putri Mimpi, yang selalu ingin menari. Lalu ksatria melihat itu, tatkala perjumpaan pertama mereka di sebuah telaga membiru pada purnama yang memucat. Dia menari dengan keterasingan dan keindahan… begitu sunyi… dan syahdu. Hingga patahan ranting yg terjatuh begitu menggema dan membebaskan dia dari keheningan. Keduanya terkesima..
Semenjak itu, pertemuan selalu ada di antara mereka. Bukan karena pesona atau bayangan indah, melainkan ada sesuatu yg mengusik hati dan jiwa mereka, mengalir dan begitu hangat… mereka tahu bahwa kata-kata tak cukup bijak untuk menerjemahkan apa yg dirasa. Bagi mereka, keheningan adalah melodi paling indah yang ada di muka bumi dan cara untuk menerjemahkan rasa.
“Tak perlu katakan apa yang ingin kau ucapkan padaku, tak perlu kau perlihatkan perilaku terbaikmu padaku, aku hanya ingin melihat ketulusan hatimu..”. Dan bintang pun saling berkedip menandakan setuju, apa yang terjadi di antara mereka..
“Kau pasti jatuh dari langit”. Begitu ucap Putri Mimpi suatu ketika pada Ksatria. Sedang ksatria hanya tersenyum lalu berkata, “Kamu yang sebenarnya terjatuh dari langit,” lalu tanya Putri, “Kenapa?” jawab ksatria: “Karena kamu terlihat begitu terluka..”
Di Padang bunga yang maha luas, bernyanyilah dirinya… “Jadilah Ksatria Langitku, yang menuntunku di setiap perjalanan yang kulalui dengan kegelapan. Jadilah Ksatria Langitku, yang memendarkan cahaya kegembiraan, hingga udara kebahagiaan memenuhi ruangan…”

Pada suatu sore yang cerah, memandang senja yang hendak beranjak, tiba-tiba Ksatria berkata: “Pandangi dunia dan berjalanlah dengan tegak. Menantang dunia bukan berarti kamu angkuh, tapi karena kamu mampu. Dan meskipun tak sanggup, setidaknya berusahalah. Hanya jangan matikan rasamu.. sebab itu akan membuatmu makin terluka.”
Kembali dia berjumpa dengan Ksatria yang kemudian berkata: “Dunia mempermainkan kita layaknya kita mempermainkan ilalang saat senja kala tiba.”, dia pun berkata: “Pemikiranmu tak beralasan, seperti halnya keresahanku yang juga tak pernah punya alasan”. Lantas mereka tertunduk malu, bukan karena perbedaan pandangan, tapi karena sama-sama tak tahu harus berkata apa saat perjumpaan tiba.
Lalu dia berkata: “Kenalkah kamu dengan semua itu? Rasa-rasanya kita pernah bersua suatu ketika yang telah lalu.. atau mungkin ini hanya perasaanku saja, bahwa sebenarnya sampai detik ini aku masih menyukaimu. entah kenapa ini tetap bertahan.. mungkin aku terlampau lelah untuk ini.”
Ksatria lalu membawanya terbang di saat rembulan bersinar terang dan Putri lalu berkata: “Izinkan aku mendengarnya darimu. Bukan karena tidak ingin, tapi karena ketakutan akan jawaban yang tak pasti. Membuat semuanya jadi berbeda, menjadi sakit. Dan pada akhirnya kita hanya bisa mengeluh dan menjauh.. tapi ternyata aku tak mampu bertahan dari kegilaan ini. Aku butuh pengakuan, apapun itu..”
Ksatria pun resah. Bukan karena berita bahagia itu, tapi keadaan yang akan membuat luka. “Cukup sampai di sini saja… Jangan kamu melangkah terlampau jauh, atau kamu akan terluka. Terima kasih atas segalanya..”. Putri tidak terima, semua harus ada kejelasan.

Putri terdiam dan airmata tak lagi punya suara. “Apakah hal ini cukup adil jika hanya sepihak saja, ataukah hanya wujud dari ketakutan akan sesuatu yang tak pasti?! Kenapa kamu mesti mencari aman?! Sedangkan kita tahu bahwa tak ada lagi tempat yang aman di dunia ini…” Dan segera saja dia berjalan pergi meninggalkan ksatria sendiri.

Dalam resahnya, Putri bertanya-tanya: Kita atau Kamu sendiri? Tak ada yang benar-benar atas nama kita, untuk siapapun di dunia ini. Yang nyata dan fakta adalah untuk aku atau kamu sendiri dengan menjual nama kita.
Ksatria terduduk di pelataran tempat kali pertama ia berjumpa dengannya. Tak apa-apa.. Semua akan baik-baik saja, seperti dahulu ketika kamu benar-benar menjadi sangat rapuh.. kamu pasti akan segera tersenyum dan melupakan segala. Percayalah.. Gumam Ksatria.
Tiap hari semakin jauh dan jauh.. Lalu menghilang.
Tiba-tiba Ksatria berlari dan menghadap sang Putri. “Duduklah di sini dan marilah kita berbicara. Tak perlu menduga tentang sesuatu yang tak pernah ada. Kita perlu penyesuaian, karena perubahan adalah keniscayaan.. semoga saling paham.” Ujarnya.
“Dan ini kemudian yang membuatku terluka, Ksatria. Bahwa aku hanyalah manusia biasa yang mudah jatuh cinta..” Putri takut kehilangan. Tapi kemudian Ksatria memeluknya dan berkata: “Semua akan baik-baik saja. Hanya berikan kesempatan pada waktu untuk membuktikan diri kita.”
Suatu ketika di hari yang cerah.. “Ksatria, dengarlah suara-suara itu. Mereka sedang memanggil kita!”, lantas Ksatria berkata “Tidak, Putri. Alam semesta hanya memanggilmu, tidak kita.” Lalu seketika suara menjadi hening.
Saat lalu Ksatria mendapati Putri Mimpi yang terdiam. “Mengapa kau harus merasa terbelenggu di antara tembok-tembok besi di sekitarmu ini? Kebebasan bukan berarti kau berada di lapangan bunga yang luas, tapi kebebasan ada di dalam dirimu; jiwa dan pikiranmu..” Lantas Putri tersenyum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s